Selasa, 29 November 2011

STOP PENULARAN HIV/AIDS,LINDUNGI dan SAYANGI KELUARGA ANDA

Hak reproduksi adalah hak asasi manusia yang dimiliki oleh setiap manusia yang berkaitan dengan kehidupan reproduksinya. Berdasarkan Kesepakatan Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan tahun 1994 di Kairo, pemerintah Indonesia telah menyetujui 12 hak reproduksi yang di dalamnya, dimana di dalamnya mencakup pula hak-hak reproduksi perempuan dengan 4 hal pokok yakni kesehatan reproduksi dan seksual (reproductive and sexual health), penentuan dalam keputusan reproduksi (reproductive decision making), kesetaraan pria dan wanita (equality and equity for men and women) dan keamanan reproduksi dan seksual (sexual and reproductive security).


Data terbaru dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia secara kumulatif menunjukkan bahwa sampai dengan bulan Juni 2011 kasus HIV/ AIDS ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Total kasus mencapai 26. 483 jiwa di Juni 2011 dengan jumlah kematian 5. 056 jiwa. Berdasarkan sumber yang sama peningkatan kasus AIDS pertriwulan dari Januari s.d. Maret 2011 dari segi jumlah sudah mencapai 24. 482 kasus dengan total kematian kematian 4. 603, tentunya cukup mencengangkan jika dibandingkan dengan pertanbahan jumlahnya ditriwulan berikut yang bertambah menjadi 26. 483 kasus di Juni 2011. Rincian data lima besar provinsi dengan kasus AIDS sampai dengan Juni 2011 adalah sebagai berikut, DKI Jakarta dengan jumlah 3. 997 kasus, berikutnya adalah Papua dengan jumlah total 3. 938 kasus, Jawa Barat dengan 3. 809 kasus, Jawa Timur dengan 3. 775 kasus, dan Provinsi Bali dengan 1. 747 kasus. Tentunya jika ditinjau dari statistik kita telah mengetahui bahwa hal tersebut bukan nilai yang sedikit.
Penyebab dari tertularnya virus HIV melalui pasangan dapat diakibatkan dari seringnya salah satu pihak berganti-ganti pasangan atau dikenal dengan Sex Extra Marital (SEM), pada beberapa kasus yang terjadi, utamanya di daerah terpencil di Indonesia, salah satu pasangan yang tidak melakukan SEM umumnya tidak mengetahui jika dirinya tertular HIV/AIDS. Angka penularan akibat SEM ditunjukkan sebagai angka statistik tertinggi faktor risiko penularan HIV/AIDS,yaitu 14513 kasus. Pada pola penularan yang diterima perempuan, tentunya akan memberikan resiko jika perempuan tersebut tidak mengetahui bahwa dirinya tertular HIV/AIDS kemudian mengandung dan memiliki anak kemudian anak tersebut ikut tertular HIV/AIDS, biasanya dikenal dengan istilah Mother to Child Transmission (MTCT). Statistik penularan melalui MTCT ditunjukkan dengan angka 742 kasus dan berada pada peringkat ke 4 faktor risiko penyebab HIV/AIDS.
Pada kasus yang lain, ditemukan pula fenomena, bahwa infeksi virus HIV kepada perempuan tidak semata-mata disebabkan karena perempuan tidak mengetahui bahwa dirinya terinfeksi virus HIV ataupun ketidakpahaman akan cara-cara penularan maupun pencegahan HIV. Seringkali infeksi HIV terjadi karena perempuan tidak memiliki kekuatan sosial dan ekonomi, yang menyebabkan tidak adanya posisi tawar untuk melindungi diri mereka. Selain itu, dapat pula disebabkan oleh lingkungan adat istiadat dan budaya yang menyebabkan mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan.


Kunci pencegahan penularan HIV-AIDS yang utama adalah setia dan jujur kepada pasangan. Selain itu, utamanya pencegahan penularan HIV/AIDS kepada perempuan perlu mengikutsertakan segala upaya untuk turut menanggulangi ketidaksetaraan gender. Ketidaksetaraan gender jelas-jelas memiliki potensi besar untuk memicu meluasnya penyebaran infeksi HIV. Penyebab tidak langsung meliputi faktor-faktor kemiskinan, pendidikan yang rendah, rendahnya dukungan kebijakan dan politik, kurangnya peran perempuan dalam proses pengambilan keputusan, rendahnya keterlibatan masyarakat dan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap upaya penyembuhan.
Penegakan hak azasi perlu diikuti dengan penegakan hak untuk mengontrol dan memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab pada hal-hal yang berkaitan dengan seksual dan kesehatan reproduksi yang bebas dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan.


Mengingat pentingnya, hak azazi atas organ reproduksinya. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia,dalam hal ini diwakili oleh Bidang Pemberdayaan Perempuan menyatakan sikap :
1. Pemerintah harus menjamin ketersediaan akses layanan bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang tidak diskriminatif dan komprehensif meliputi : informasi, obat-obatan, konseling dan petugas kesehatan yang memiliki ketrampilan dalam menangani korban HIV/AIDS.
2. Pemerintah segera mengimplementasikan pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan mengenai reproduksi dan hak seksualitas untuk mencegah penularan HIV/AIDS sejak dini ke dalam pendidikan formal.
3. Mendesak pemerintah untuk masif bersinergi dan bergerak konkrit dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat agar berkomitmen mengupayakan penanggulangan HIV/AIDS.
4. Pemerintah menjamin terbentuknya crisis center/shelter untuk perempuan dan anak dengan HIV/AIDS yang dilengkapi dengan layanan terpadu sampai tingkat PUSKESMAS dengan cra meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia hingga tingkat UPT terkecil mengenai penanggulangan dan pelayanan terapi HIV/AIDS.
Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan, untuk dapat mendorong semua pihak agar menciptakan dan menegakan kemandirian atas hak reproduksinya.


Ketua Umum KAMMI, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan KAMMI
Muhammad Ilyas, Emi Rahyuni
Contact Person :
Pramitha Sari, Ketua Departemen Advokasi dan Pengembangan Potensi Perempuan (085642046624) cc Endang Dzunuraini Sahlan, Ketua Kemuslimahan KAMMI WILAYAH JATIM

Senin, 20 Juni 2011

Eksekusi Mati Ruyati: Potret Kegagalan Pemerintah RI untuk Memenuhi Hak Pekerja di Luar Negeri

Pada tanggal 14 Juni 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan klaim bahwa pemerintah berhasil memenuhi hak buruh, perlindungan, dan kesejahteraan mereka pada sebuah pidato di hadapan audiens sidang ILO, Geneva. Akan tetapi, publik menyaksikan sebuah fenomena yang membantah klaim tesebut: Seorang TKI bernama Ruyati binti Sapubi dieksekusi mati di Arab Saudi karena membunuh majikannya pada tanggal 18 Juni 2011.

Ini bukanlah kali pertama eksekusi pancung yang menimpa buruh migrant Indonesia. Sebelumnya, eksekusi hukuman mati juga pernah terjadi terhdap Yanti Iriyanti, tenaga kerja wanita asal Cianjur yang sampai saat ini jenazahnya belum juga bisa dipulangkan. Ruyati merupakan tenaga kerja Indonesia ke-28 yang di pancung di Arab Saudi, disusul 26 TKI lainnya yang masih dalam masa penantian untuk hukuman serupa.

Secara hukum internasional, hak dan perlindungan atas manusia untuk bekerja telah dengan tegas diatur sebagai hak ekonomi, sosial, dan budaya. Kasus Ruyati adalah salah satu bentuk kegagalan pemerintah Indonesia dalam melindungi warganya yang bekerja di luar negeri, dan kegagalan pemerintah dalam memenuhi hak asasi warga negara untuk mendapatkan perlindungan ketika bekerja

Kronologis pembunuhan atas majikan Ruyati perlu ditelaah karena sangat terkait dengan penyebab ia dihukum mati. Jika benar bahwa tindakan Ruyati membunuh adalah karena melindungi diri terhadap upaya penganiayaan, berarti tindakan Ruyati adalah bentuk self-defense. Yang jelas, apapun bentuknya, perlindungan atas Ruyati perlu dilakukan oleh kedutaan besar RI di Arab Saudi.

Dalam konteks pemidanaan –apalagi pidana mati—hal tersebut takkan terjadi jika sebelumnya pemerintah RI bisa care dan mengambil langkah-langkah preventif perlindungan terhadap buruh migran Indonesia. Jumhur Hidayat, Kepala BNP2TKI telah menyatakan bahwa TKI menyumbang devisa negara sebanyak 130 Triliun rupiah pada tahun 2008. Jumlah ini merupakan pemasukan devisa terbesar kedua setelah migas yang menyumbang sebanyak 180 Triliun.

Tentu saja, hal ini perlu menjadi sebuah preseden bagi pemerintah untuk segera mengatur ulang regulasi mengenai TKI, terutama yang terkait denga perlindungan mereka ketika bekerja di luar negeri. Oleh karena itu, Jawa Timur sebagai salah satu wilayah yang masuk dalam wilayah suplayer tenaga kerja migrant yang cukup diperhitungkan di negeri ini, maka dengan demikian Muslimah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia yang tergabung Departemen Khusus Muslimah Pengurus Wilayah KAMMI Jawa Timur mendesak kepada presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pemerintahannya:

1. Segera ratifikasi konvensi buruh migrant (KBM) tahun 1990, karena melalui ratifikasi konvensi ini maka Indonesia dapat memperbaiki perundang-undangan dan aturan-aturan yang berkaitan dengan buruh migrant yang selama ini lumpuh di hadapan mekanisme pelanggaran HAM.

2. Segera mengirim nota protes dan melakukan pembicaran diplomatik dua negara (bilateral) untuk menekan pemerintah Saudi Arabia dalam mempertanggungjawabkan kasus TKI yang selama ini terjadi di negara tersebut.

3. Segera mengatur ulang regulasi terkait pengiriman TKI dengan
memperhatikan pendidikan, penngkatan skill vokasional, dan perlindungan atas hak-hak perempuan serta memberhentikan pihak-pihak yang terbukti tidak kompeten dalam menangani permasalahan buruh migrant Indonesia ini.

4. Tidak lagi melakukan klaim-klaim palsu dan tidak lagi berlindung di balik pidato yang menyesatkan opini publik dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kenegaraan.


Persoalan TKI yang sudah bergulir sejak lama harus segera dituntaskan, dan perlindungan terhadap hak-hak perempuan harus segera dipenuhi oleh pemerintah. KAMMI menuntut pemerintah untuk bersikap tegas dan membuktikan janjinya kepada segenap rakyat Indonesia!

Surabaya, 20 Juni 2011

Endang Dzunuraini Sahlan
Ketua Departemen Khusus Muslimah Pengurus Wilayah KAMMI Jawa Timur
Tembusan:
Pramitha Sari, ketua departemen Advokasi Perempuan Pengurus Pusat KAMMI
Emi Rahyuni, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan (BPP) Pengurus Pusat KAMMI

Minggu, 19 September 2010

Tradisi Lebaran; Dangdutan Erotis di Waduk Gondang Berujung Tawuran


Tidak biasanya siang hari selama bulan Ramadhan saya dan keluarga besar menonton berita di televisi. Bau lebaran masih belum hilang, usai menjamu para tamu dan saudara yang kebetulan datang dari Surabaya, H+3 pasca idul fitri ini saya iseng-iseng menonton berita televisi, kebetulan yang saya putar saat itu adalah Patroli Siang Indosiar, awalnya saya tidak terlalu kaget ketika melihat berita tersebut, sudah sering kita jumpai berita dangdutan atau acara-acara konser musik yang berujung bentrokan penontonnya. Namun yang kemudian membuat saya jadi lebih antusias lagi adalah konser orkes tersebut menyuguhkan tarian-tarian erotis, penyanyi-penyanyinya menari di atas panggung dengan gerakan yang tak sepantasnya di lakukan di tempat terbuka, apalagi di lokasi obyek wisata keluarga seperti itu, yang tak jarang pula pengunjungnya banyak yang membawa anak-anak kecil sebagai bagian dari keluarganya. Setelah saya simak berita tadi secara lebih detail, ternyata aksi tersebut terjadi pada hari Minggu, 12 September 2010, dan yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah bahwa lokasi acara musik tersebut berada di salah satu tempat obyek wisata terkenal di Kabupaten Lamongan, yakni obyek wisata waduk Gondang Lamongan.


Makna Idul Fitri
Dalam wikipedia Idul Fitri adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Pastilah semua manusia seluruh dunia mengetahui tentang hal ini, yang kemudian di tandai dengan dilantunkannya takbir beserta kalimat puji-pujian terhadap Allah tanda berakhirnya puasa di bulan Ramadhan. Puasa selama satu bulan penuh yang tak hanya menahan makan dan minum saja melainkan nafsu-nafsu lainnya pula.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya salah satu esensi idul fitri adalah bagaimana manusia kembali pada kesucian yang implementasinya pada perilaku dan sikap saling memaafkan dan berkasihsayang antar sesama dan berharap agar amalan-amalan di bulan Ramadhan bisa untuk bekal pemanasan melanjutkan hidup lebih baik di sebelas bulan berikutnya. Namun, kenyataan sebaliknya ternyata telah terjadi, alih-alih menghormati kaum muslimin yang sedang merayakan Lebarannya, tarian erotis di ruang publik tersebut lagi-lagi malah berujung tawuran.


Menengok Kembali Sejarah Religiusitas Masyarakat Lamongan
Melihat kenyataan yang terjadi di kawasan wisata Waduk Gondang yang tanggal 12 September 2010 kemarin, semakin memperlihatkan perkembangan permasalahan sosial kemasyarakatan di kota soto tersebut. Sepertinya sudah semakin terlupakan bahwa Lamongan adalah salah satu Kabupaten dengan tingkat religiusitas yang cukup mapan. Sedikit mencuplik fakta sejarah Lamongan, makam salah satu anggota wali songo, yaitu Raden Qosim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Sunan Drajat, penyebar agama Islam yang letakknya berada di Kecamataan Paciran, Kabupaten Lamongan. Menurut buku berjudul Biografi dan Legenda Wali Sanga Karangan MB. Rahimsyah AR, Raden Qosim atau Sunan Drajat memang sengaja di perintahkan oleh ayahandanya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di sebelah barat Gersik yaitu daerah kosong antara Tuban dan Gersik. Hal ini menunjukkan bahwa dari zaman para wali, Lamongan adalah salah satu tempat yang mendapat perhatian lebih dari para Wali Penyebar Agama Islam. Kepergian Sunan Drajat ke Lamongan tidak melaluai jalan darat, melainkan melewati laut. Di tengah-tengah lewat laut Sunan Drajat mengalami musibah. Tiba-tiba perahu terbalik dan datanglah pertolongan Allah, beliau diselamatkan oleh ikan dan dihantarkan sampai ke pinggir pantai Lamongan (Tabloid Posmo 11 Agustus 2010). Tepatnya di desa Jelag (sekarang masuk desa Banjarwati). Di tempat itu Raden Qosim disambut masyarakat dengan antusias, lebih-lebih setelah mereka tahu bahwa beliau adalah putra Sunan Ampel, seorang wali besar yang masih kerabat keraton Majapahit (MB. Rahimsyah AR., 1997). Letak Lamongan yang berbatasan langsung dengan pesisir pantai membuat logis kalau Lamongan menjadi sasaran penyebaran Islam generasi awal di Pulau Jawa.
Bukti lain menunjukkan bahwa Lamongan memang memiliki emosional spiritual keagamaan yang tinggi adalah, bahkan di zaman-zaman penjajahan belandapun, dalam mempertahanan kemerdekaan banyak para kyai yang berperan. Tidak asing lagi nama Kyai Amin, kyai asal Desa Tunggul yang namanya hingga kini telah diabadikan menjadi sebuah nama jalan di tengah jantung kota Lamongan. Bahkan hingga saat ini masih berdiri kokoh pesantren dengan spirit Kyai Amin, walaupun di masa-masa penjajahan pesantren itu sempat bubar diobrak abrik oleh Belanda, namun pada 1952, putra-putri Kyai Amin kemudian membangun kembali ponpesnya tersebut dan diberi nama Ponpes Al-Amin ( Radar Bojonegoro, 10 November 2009). Disinilah tepatnya bagaimana kita seharusnya menoleh kembali kebelakang dengan segala perjalanan sejarah panjang perjalanan hidup tokoh-tokoh sejarah dan masyarakat Lamongan yang tak pernah lepas dari yang namanya sikap religiusitas yang senantiasa mengajarkan pendidikan moral, agama, dan ilmu-ilmu kebaikan ditengah-tengah masyarakatnya bukan malah memicu pertikaian sesama.


Kesiapan Penyelenggara dan Pengamanan
Sebenarnya sudah sering terjadi hal serupa di Lamongan, apalagi di acara konser musik setelah hari raya. Seperti dilansir sebuah media online di tahun 2009, konser dangdut untuk meramaikan libur Lebaran di tempat wisata Waduk Gondang di Desa Gondang, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur diwarnai aksi tawuran antarpenonton (Suara Karya Online, 24 September 2009). Perkelahian-perkelahian semacam itu banyak terjadi hanya karena masalah-masalah sepele, psikologi penonton dan kondisi panas udara di ruang terbuka dengan jubalan penonton saat konser juga kerap menjadi pemicu, terkadang penonton juga ada yang mengkonsumsi miras saat menonton konser, apalagi dengan pemicu goyang erotis penyanyi-penyanyinya yang berpakaian minim adalah bumbu yang lengkap sebagai pemicu tawuran. Berdasar informasi yang dihimpun, semula konser dangdut itu berjalan lancar, seluruh penontot larut dalam irama musik dangdut. Namun saat seluruh artis lokal yang tampil bareng hendak turun panggung kericuhan terjadi. Diduga aksi tawuran dipicu karena aksi saling dorong antarpenonton saat berjoget (Antara News Jawa Timur,23 September 2009). Awalnya memang terkadang hanya soal senggolan, tapi tak jarang ujungnya adalah pertikaian. Apalagi sebagaian besar penonton adalah didominasi remaja dan pria. Dan karena sudah kerap terjadi itulah , seharusnya penyelenggara harus lebih preventif lagi terhadap kejadian-kejadian yang berdampak pada perkelahian atau tawuran seperti ini. Bukan malah menampilkan penari penari dan penyanyi yang berjoget erotis dan menjijikkan yang mengakibatkan penonton hilang kontrol. Karena kalau mau ditelisik lebih jauh, usaha untuk tidak menampilkan biduan-biduan yang erotis dan seronok itu adalah salah satu cara untuk mengurangi tingkat naiknya libido penonton yang kerap berakhir rusuh.
Selain hal di atas, mengenai pengamanan, karena sudah pernah terjadi di lokasi yang sama dan dalam rangka acara yang sama, seharusnya pihak keamanan juga harus lebih waspada lagi, kesiapa armadanya dengan perhitungan resiko kejadian serupa yang sudah pernah terjadi tentunya harus lebih bisa menjadikan hal ini sebagai pengalaman berharga. Kalau pihak keamanan di final Liga Indonesia 2010 di Solo baru-baru ini saja bisa meng-cut atau menghentikan sepihak jalannya pertandingan yang sedang belangsung di tengah lapangan hijau, yakni aparat dengan mudahnya mengintervensi role-peraturan yang sudah paten dari FIFA demi meredam tawuran, kenapa harus sulit kalau hanya untuk mempertimbangkan boleh atau tidaknya sebuah konser musik yang sudah pernah ricuh di tahun sebelumnya yang kalau diadakan lagi belum tentu malah memberi maslahat, kenyamanan dan keamanan pada pengunjung yang ingin menikmati liburan. Kalaupun ini hanya sikap egois pihak penyelenggara saja untuk menarik datangnya pengunjung sebesar-besarnya, rasa-rasanya kurang eloklah kalau ini terjadi apalagi dilakukan untuk mengisi liburan disaat kaum muslimin yang masih dalam suasana Idul Fitri.

Jumat, 29 Januari 2010

Jilbab gondrong nyusup di lautan merah Surabaya .....(28 Januari 2010, Menagih janji 100 hari SBY- Budiono)

Udah berangkatnya telat, gak bawa kamera lagi... cuma modal kartu pers yang masa berlakunya hampitr habis lagi. Pakaian dan barang bawaan gak wartawan bgt deh, malah kelihatan kayak orang mo kondangan... semua serba dadakan deh...

penennya sih nekat berangkat sendiri, tapi tak terduga ada Bayti yang siap jadi ojek, hehe. Padahal udah sms beberapa pentolan gerakan d surabaya... tapi ternyata gak ada balasan,,, jadi blm bisa bayangin keadaan medan kayak apa.

sesampainya di delta udah ketemu kumpulan banyak anak2 gmni yang lagi bersiap long march menuju grahadi. Niatnya tadi mo ngliput BEM SI yang katanya hari ini juga turun, ehhh ternyata ga lihat sama sekali anak2 BEM SI dsana.

Udah nasib jalan menuju Grahadi pada di potong, akhirnya harus muter lewat Kedung Doro... motor mau gak mau harus diparkir di selatan TP, karena itu satu2nya tempat parkir yang paling dekat dengan Grahadi.

Ku tanya ke Bayti: "gmana anti berani terus ga?", dan bBayti menjawab: "InsyaAlloh berani mbak". ( karena kulihat dari kejauhan kayaknya laki2 semua deh... gak terlihat perempuan sama sekali..aku agak mikir, klo sampe ada apa2 aku juga harus tanggung jawab terhadap Bayti).

Tetap kuberanikan langkahku dengan Bismillah.... semakin deka dengan titik masa, tak satupun orang yang ku kenal dsana... Bayti ku suruh nunggu d sebelah trotoar, lalu aku yang masuk melewati tali pembatas yang di pasang aparat. hiruk pikuk keadaannya, aku coba menenangkan diri sejenak... lalu dengan PD nya, hehe, ku dekati kerumunan Forum Aksi Mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma atau FAM UWK, " mas pers realisenya masih ada?"... lalu salah satu pimpinannya menemuiku dan memberikan selembar pers realise nya.
tak lama kemudian datang lagi segerombolan mahasiswa, klo yang ini dengan banyak bendera... ada GMNI, PMII, HMI, dan PMKRI... ternyata mereka kelompok Cipayung. Lalu dengan tanpa basa basi lagi ku dekati Korlapnya... dan seterusnya sampai akhirnya giliran Pimpinan temen2 PRD.

Udah dapet semua bahannnyaa, tapi Fotonya yang gak ada... muter otak lagi deh... Subhanalloh, benar2 pertologan Alloh... ketemu ma cewek gaya wartawan yang ternyata Adek angkatan di Unair, gak sempat nanya dia dari media mana...yang penting udah kuloby dia untuk share Fotonya. hehe, tapi lupa gak sempet nyuruh dia abadikan gambarku di tengah lautan merah manusia, (narsis nya tetep dunk)

Sudah cukup kangen2annya ma adek angkatan... sekarang waktunya dengerin orasi pak Dhe karwo yang disambut teriakan massa... " Karwo tanda tangan...Karwo Tanda Tangan!!!", dengan masih dalam kawalan kapolda...akhirnya Pak De Karwo mau tanda tangan Juga... (Gak jadi panas deh aksinya, lha pancen Surabaya mendung je waktu itu, hehe)

Suasana menjadi sedikit ricuh saat Angsa berkaos SBY_Boediono dan Replika NPWP dikeluarkan. Koordinator aksi beberapa kali menyerukan untuk satu komando dan tidak ada bakar2an. Yah.. ternyata cuma kerjaan wartawan biar aksi tambah seru. hehe

Akhirnya Aku dan Bayti memutuskan untuk mundur ke Trotoar....
Eh...ternyata ada yang menyapku dari samping kiri, " ngapain disini?". Tak asing wajah orang ini bagiku, ya Alloh baru ingat aku kalau dia adalah seorang Agen. Langsung saja kusodorkan kartu Persku, hehe... ternyata sepertinya dia masih tak puas, Bayti yang kebetulan memakai jaket gerakan (yang gak ikut aksi hari ini) ditanya juga olenya..." lha mbak ini?"(sambil menunjuk k arah Bayti), Lalu dijawab oleh Bayti: " nganterin mbak ini" (sambil menunjuk ke arahku). Hehe, males banget nglayanin orang kayak gitu, sekali2 aku pengen ngerjain dia...biar gak dia aja yang suka ngerjain orang, batinku dalam hati. kuabaikan dia sambil mengsms Mega Jabar, akhirnya dia pergi sendiri... (gak pamit lagi)

Akhirnya bisa ngerjain Agen. Salahnya sendiri....Ngapain juga dia ada disini, nyapa2 sok kenal lagi...emang dasar agen... :P

Jumat, 22 Januari 2010

Bu Suroso oh bu Suroso...

Malam tadi perjalalanan dari Lamongan ke Surabaya. sengaja mampir ke Stasiun Lamongan untuk beli karcis komuter.Lalu seperti biasa tetap sendirian duduk menunggu di samping komuter dengan sabar, karena komuternya baru berangkat sekitar pukul 18.30 dari Lamongan ke Surabaya.

Beberapa saat sebelum komuter berangkat, aku lalu naik dan mencari tempat duduk. tak disangka ternyata disebelahku duduk seorang ibu paruh baya yang tadi sempat menyapaku dengan senyumnya, saat kami sama2 menuju mushola untuk sholat Maghrib beberapa waktu yang lalu.

Kami lalu berbincang2, bercerita2 panjang lebar. . .ternyata beliau tiap pekan selalu menyempatkan untuk "sambang" k rumah anaknya yang di Lamongan. " Anak saya seusia laki2 satu2nya nak, seusiamu,dia polisi kebetulan dinas di Polres Lamongan. jadi tiap pekan saya selalu k Lamongan untuk mengunjungi putra saya nak", cerita ibu itu sambil senyum. Panjang lebar ibu itu bercerita padaku sampai akhirnya beliau bercerita tentang bagaimana perjuangannya membesarkan keempat anaknya dengan tanpa suami. sebab ditahun 1990an, ketika anak terakhirnya lahir, suaminya meninggal dunia karena sakit lever. jadi beliau mau tidak mau harus bisa bertahan hidup dengan keempat anaknya itu. hari2 dilalui beliau dengan berjualan bakso dan soto di RSUD dr. Soetomo. awalnya ku kira beliau pegawai RSUD, tapi ternyata tidak, kata beliau. . ."walaupun hanya mengandalkan satu petak kecil dibawah tangga lantai 4 RSUD dr. Soetomo itu saja, tapi ternyata saya bisa mbertahan hidup dan bisa menyekolahkan anak saya sihingga mereka semua kini bisa mandiri nak, apalagi saat pelantikan anak saya yang polisi ini nak, dalam hati saya berkata; alangkah bahagianya jika bapakknya bisa menyaksikan perjuangan ini, hingga sampai ke pelantikan ini", tetap dengan senyum dan mata yang sedikit berkaca2 ibu itu melanjutkan ceritanya.

Dalam hati aku hanya bisa melampiaskan maluku dengan kagum padanya, dan berkali2 kuucapkan Subhanalloh, ibu hebat...benar2 hebat... aku telah bertemu dengan perempuan hebat yang kesekian kalinya. . . perjuangan seorang ibu, yang bisa membesarkan keempat putranya dengan gagah berani, tiap pagi beliau lalui dengan bersepeda motor membawa barang dagangannya ke kantin Rumah Sakit, tanpa kenal lelah, meskipun banyak tetangga yang mencibir dan meremehkannya, tapi itulah kekuatan Do'a dan Usaha. . .

Sesampainya di Stasiun Pasar Turi, kami lalu meneruskan perjalanan bersama dengan Lyn C jurusan karangmenjangan. . .ibu itu turun duluan di pertigaan tambaksari, dan aku masih harus terus mengikuti jalan roda angkot sampe menuju unair kampus A.

Sesalku ibu itu trnyata yang membayari angkotku, sedangkan keadaanku karena sudah cukup malam dan posisi yang msh berada di dalam angkot bagian belakang tak mungkin mengejar dan menolak maksud ibu itu, aku hanya bisa berbicara semampuku " bu, ndak usah bu... " dan pak sopir angkotnya sudah keburu menjalankan angkotnya.

bener2 malu aku dibuatnya...( apa aku kelihatan melas bgt ya, sampe beliau yang bayar angkotku, he he trimakasih Bu Suroso atas semua nasihat dan pelajaran hidupnya :D)

Lamongan-Surabaya, 22 Januari 2010 :D

Senin, 09 November 2009

Kadet Muda Pemberani Itu Bernama Suwoko, Bukan Soewignyo ( edisi hari Pahlawan 10 November 2009)

Dilahirkan di di Desa Lumbangsari, Krebet, Malang, 81 tahun lalu, yaitu di tahun 1928. Suwoko adalah salah satu pahlawan kemerdekaan, tepatnya pahlawan yang ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada saat menghadapi Agresi Militer Belanda II, tahun 1949. Seusai lulus dari sekolah *kadet di Malang, kemudian dia ditugaskan untuk menjadi komandan regu I seksi I pasukan tamtama Kdm ( Kodim) Lamongan.
Napaktilas bersama ayah saya di bulan November lalu, mengantarkan saya untuk menelisik lebih jauh tentang sosok Suwoko ini. Sosok yang di abadikan sebagai sebuah nama jalan di jantung kota Lamongan, sosok yang banyak menginspirasi masyarakat Lamongan, termasuk sebagai icon LA Mania (superter club sepakbola Persela Lamongan-red).

Dari monumen gugurnya Suwoko yang berada di Desa Gumantuk, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, tertera tanggl 9, bulan 3, tahun 1949. Di tugu yang bertuliskan “ Tugu Peringatan, Mengenang Jasa Para Pahlawan “ itu tertera beberapa nama diantaranya adalah Suwoko- Kadet TNI, Widodo- Kopral TNI, Sukaeri- Kopral TNI, serta Lasiban- Kopral TNI. Memang Suwoko tidak gugur sendiri saat itu, fakta ini juga diperkuat oleh cerita heroik yang bersumber dari catatan Sejarah Kodim 0812 Lamongan, bahwasannya kisah nyata gugurnya Kadet Suwoko dan kawan- kawannya itu terjadi pada hari Minggu 9 Maret 1949. Saat itu hari sudah menjelang siang, Suwoko dan 7 orang temannya beristirahat disebuah surau di Desa/ Kecamatan Laren, tak lama kemudian ada laporan dari penduduk kalau ada truk yang berisikan 7 serdadu Belanda terperosok di parit sekitar Desa Parengan, Kecamatan Maduran.
Regu Suwoko segera berangkat, karena saat itu senjata yang dibawa oleh regu Suwoko hanya berjumlah 7 buah, maka mereka kemudian memutuskan agar salah satu dari mereka yaitu Soemarto, untuk tetap tinggal, tidak mengikuti penyerbuan.

Kebetulan letak Desa Parengan berada di sebelah selatan Bengawan Solo, sedangkan Desa Laren ada di sebelah Utara Bengawan Solo, maka mau tidak mau Suwoko dan teman-temannya harus menyebrang menyusuri sungai terpanjang di Pulau Jawa itu. Dengan menaiki perahu sederhana, Kemudian masih dilanjutkan lagi dengan melewati semak kebun Bengkuang, karena kebetulan saat itu sedang musim bengkuang, akhirnya Suwoko dkk berhasil mendekati lokasi truk Belanda dan mereka sepakat akan menyerang dengan menggunakan tembakan salvo jika sudah pada jarak tembak yang tepat. Sesampainya di lokasi, ternyata situasi berubah, tidak sesuai dengan informasi dan strategi awal yang telah dirancang sebelumnya, karena tiba-tiba datang truk Belanda lainnya yang berisi penuh serdadu, sekitar 37 orang tambahan kekuatan Belanda saat itu, tentunya dengan persenjataan yang lebih lengkap dan canggih pula jika dibandingkan dengan senjata Suwoko dkk yang hanya peniggalan dan sisa-sisa tentara Jepang.
Meskipun kekuatan Belanda menjadi berlipat ganda, ternyata hal ini tidak sedikitpun menciutkan nyali regu Suwoko. Mereka tetap melakukan serangan bertubi-tubi pada Tentara Belanda, tak sediikit Serdadu Belanda yang mati dalam insiden ini, sehingga serdadu-serdadu itu panic, lalu menambah kekuatan serangan mereka. Karena jumlah yang lebih sedikit dan persenjataan yang minim itu, akhirnya Suwoko dkk menjadi terdesak dan berencana untuk mundur, namun upaya mundur itu gagal dilakukan sebab diam-diam beberapa tentara Belanda sudah berada di belakang dan menghadang mereka. Hal inilah yang menjadikan Suwoko dan kawan-kawan akhirnya memutuskan untuk menerobos hingga ke Desa Gumantuk Kecamatan Maduran, kebetulan desa itu memang tak jauh dari Desa Parengan, Dua orang teman Suwoko berhasil menerobos kepungan musuh, dan satu lagi berpura-pura mati, tetapi tidak bagi Suwoko yang saat itu sudah tertembak kedua lengannya dan tergeletak tanpa daya.

Tak lama kemudian, datang serdadu Belanda yang bertanya mengenai namanya dengan suara keras membentak. Namun suwoko waktu itu mengaku bernama Soewignyo. Lalu Belanda memaksanya untuk ikut ke markasnya di Sukodadi, Lamongan, tapi Suwoko menolaknya sambil berkata “ Saya tidak mau menyerah!! Bunuh saya!! “. Serdadu belanda merasa geram, lalu menusuk dada kiri serta menembak pipi Sowoko hingga dia langsung gugur seketika itu juga.

Fakta sejarah lainnya saya dapatkan dari seorang lelaki tua yang usianya sudah kepala tujuh, berasal dari desa Pringgoboyo (sumber tidak mau disebutkan namanya), beliau adalah saksi hidup sekaligus ikut memakamkan Kadet Suwoko waktu itu. Beliau bercerita bahwa saat itu Suwoko juga sempat mampir di surau di desa Pringgoboyo, Maduran, Lamongan untuk melakukan sholat Dhuhur. Memang kalau dikaitkan dari catatan sejarah dari Kodim tadi hal ini masih bisa diterima oleh akal sehat, karena dari sumber cerita Kodim Lamongan tadi telah disebutkan bahwa Suwoko dkk menuju Parengan pada hari minggu menjelang siang, kita coba garis bawahi makna dua kata yang disebut dsana, yakni menjelang siang, maka menjadi masuk nalar akal jika memang ada sumber yang menyebutnya sempat mampir sholat di Pringgoboyo, mengingat letak Pringgoboyo juga tak terlalu jauh dari Parengan.

Sumber juga menyebutkan bahwa, setelah gugur bersama tiga orang kawannya, mereka kemudian langsung dimakamkan oleh warga desa setempat termasuk juga disaksikan oleh anggota regunya yang berpura-pura meninggal saat pertempuran tadi, mereka berempat dianggap mati syahid sehingga dimakamkan tanpa dimandikan dan dikafankan.

Itulah sekelumit kisah Suwoko, kadet muda yang gugur diusia 21 tahun di Kota Soto, Lamongan. Semoga masih ada pemuda-pemuda lain yang keberaniannya melebihi Suwoko dan namanya akan selalu diabadikan sejarah sebagai “pahlawan-pahlawan” pada zamannya masing-masing. Yang berjuang dan berkorban tanpa pamrih demi mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia tercinta.

Oleh : Endang Dzunuraini Sahlan*
Surabaya Malam hari, tanggal 07 November 2009

*kadet = letnan
* Endang Dzunuraini Sahlan adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya, saat ini bersama ayahnya Sahlan Yahya S. Ag., sedang menyelesaikan penulisan buku yang berjudul Pahlawan-Pahlawan Lamongan yang Diabadikan Jalan.

Rabu, 06 Mei 2009

Generasi Yang Semakin Terbuka

Berawal dari sebuah perkenalan kecil dengan seorang kerabat kiyai terkenal di Jawa Timur. Subhanallah ... tak henti- hentinya kata itu ku ucapkan ketika aku bertemu sesosok putri kerabat kiyai itu. Sosok yang begitu mengejutkan. Dia tidak mau lagi dipanggil dengan sebutan “ning“. Sebutan yang biasa digunakan untuk kalangan bangsa priayi kerabat kiyai.

Syarifah namanya. Dia kuliah di salah satu universitas negeri terkenal di Surabaya, Jawa Timur. Universitas Airlangga namanya. Karena mengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional, mangkanya dia cukup menguasai beberapa bahasa asing. Perancis, Arab, Korea, Jepang, terutama Bahasa Inggris ada di luar kepalanya alias mahir.

Kalau mencari rujukan tentang perpolitikan luar ngeri, disana tempatnya. Apalagi berbicara tentang lobby melobby, dialah ahlinya. Aku sering kali menggodanya dengan memanggilnya Ning Ifah, tapi dia selalu marah dan menolak jika dipanggil demikian. Berbeda halnya dengan kalangan keluarga kiyai yang lain. Sebutan ning dan gus adalah hal yang prestis bagi mereka, apalagi kalangan nahdliyin.

Subhanallah...dia bukanlah sosok anak kiyai pingitan. Dia berharap mampu menjawab perubahan jaman dengan keterbukaannya menerima perubahan dalam kebaikan.

Selama ini aku sering sekali menjumpai anak gadis kiyai yang tinggalnya hanya dilingkungan pesantren saja. Belajar kitab kuning sampai menghafal Al- qur’an adalah rutinitas sehari-hari yang mereka kerjakan. Setelah itu tak lama kemudian kalau ada yang meminta anak gadisnya untuk dijadikan menantu, segeralah mereka menikahkannya. Tak peduli walaupun usia mereka masih relatif belia. Itulah realita yang sering kujumpai disana.

Siang tadi Ning Ifah bercerita padaku. Cerita tentang kakak perempuannya yang bernama Aisyah. Dia lebih sering memanggilnya dengan sebutan mbak Icha. Mbak Icha berusia 21 tahun. Selama ini dia hidup di pesantren. Usia 21 tahun dia sudah hafal Al qur’an atau biasa disebut hafidzah. Kataya dia sudah diminta keluarga kiyai yang lain untuk dijadikan menantunya.

Itulah realita siklus kehidupan keluaga kiyai yang lazim kita jumpai. Tidak buruk memang…dan bahkan mungkin itu lebih mulia dari siklus kehidupan lainnya.

***

Pernyataan yang mengejutkan ketika Ning Ifah siang itu mengatakan padaku bahwa dia sudah berpesan kepada Abbahnya, kalau dia mau menikah dengan siapa saja pilihan abbahnya, asalkan dia sudah lulus kuliahnya. Memang sih masih kental dengan perjodohan ala keluarga kiyai, tapi perubahan keterbukaan disini adalah syarat lulus kuliah terlebih dahulu yang diberikan oleh Ning Ifah kepada abbahnya, setelah itu baru dia mau mempercayakan hidupnya dengan pilihan abbahnya.

Subhanallah…sebuah pergeseran kalangan generasi kiyai ke arah yang lebih terbuka. Betapa tidak, dia sudah mampu menentukan pilihan nasibnya dengan signifikan. Mulai dari pilihan studi di sekolah umum milik pemerintah sejak di bangku SMP sampai dengan pilihan untuk meneruskan kuliah di perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang jauh dari yang biasa dipilih oleh kalangan keluarga pesantren. Sebuah pilihan yang mengejutkan dan berani. Sehingga bisa merubah image kalangan pesantren salafiyah ke arah keterbukaan dan perubahan dengan berharap tidak mengenyampingkan kebaikan untuk menjawab tantangan jaman sebagai seorang muslim yang berjiwa besar.


Inspired by Ning Mumun yang sedang dilema :)
Sabar nggih Ning.............................................
pasti Allah sudah menyiapkan skenario terbaik untukmu ;)
 
Design by Pannasmontata modified by maul-keren             Powered by    Blogger