Rabu, 09 April 2008

Low Cost, Low Safety and service

“Low cost, low safety and service”, ungkapan dalam bahasa inggris yang kurang lebih berarti dengan biaya murah maka akan mendadapatkan jaminan keselamatan dan pelayanan yang rendah. Hal itu muncul dan sering diperdebatkan oleh beberapa kalangan sejak tragedi hilangnya pesawat terbang milik maskapai penerbangan komersil Adam Air 2007 lalu. Namun ternyata ungkapan itu tidak hanya berlaku pada jasa penerbangan saja, jasa perhubungan kereta api pun ternyata menerapkan hal yang sama. Sebut saja jasa kereta api kelas 3 atau yang biasa disebut kelas ekonomi, terutama kereta api ekonomi jurusan Stasiun Pasar Turi- Babat, menjadi contoh nyata penerapan ungkapan di atas. Mulai dari masalah sulitnya penumpang naik ke gerbong, keterlambatan kereta, tidak adanya lampu penerangan, sampai masalah kebersihan.

Permasalahan pertama adalah kesulitan yang dialami oleh pengguna untuk menaiki gerbong kereta. Bagaimana tidak, gerbong kereta api yang selalu mangkal di jalur kereta paling barat ini, ternyata sangat menyusahkan para penumpang untuk menaikinya. Pasalnya, rel tumpuan kereta ini di pinggir- pinggirnya tidak ada alat bantu yang mempermudah penumpang untuk naik ke gerbong, beda halnya dengan rel tumpuan yang dgunakan untuk kereta bisnis maupun eksekutif yang rel tuampuannya di pinggir- pinggirnya sudah disediakan alat bantu, bahkan permanen. Bayangkan saja tingginya gerbong kereta yang sekitar satu meter, harus dinaiki orang yang hanya tingginya rata- rata 150- 160 centi meter saja. Pintu gerbong yang tingginya kira- kira sedada orang dewasa itu semakin mempersulit penumpang untuk menaikinya. Iya kalau penumpangnya orangnya masih muda- muda dan postur tubuhnya tinggi semua, tetapi kenyataan berkebalikan. Malahan kebanyakan penumpang adalah wanita dan orang yang sudah paroh baya serta membawa barang dengan ukuran yang tidak ringan. Karena kebanyakan dari mereka adalah pedagang. Sebenarnya ada solusi sederhana untuk mengatasi hal ini, yaitu dengan membuat alat bantu yang berupa tangga pertolongan yang fleksibel dan bisa di bawa ke mana- mana, jadi nantinya ketika kereta berangkatpun tangga itu bisa dibawa dan digunakan di stasiun berikutnya. Karena saya pikir biaya operasional pengadaannyapun tidak terlalu mahal.

Permasalahan kedua adalah tentang keterlambatan kereta, bahkan bisa dikatakan kereta ekonomi ini selalu menjadi target kalah- kalahan oleh kereta jenis high cost. Saya pernah mengalaminya sendiri, entah kenapa kereta ekonomi yang saya tumpangi itu telatnya minta ampun, bayangkan saja perjalanan yang harusnya ditempuh dalam waktu 1, 5 jam kemudian mengalami perpanjangan waktu tempuh sampai 3 atau 4 jam, suasana dan keadaan yang tidak mengenakkan bukan? Dan ternyata hal ini sudah sering dialami oleh pengguna lainnya. Alasan ketelambatan beragam, ada yang bilang karena lokomotifnya harus di perbaki dulu sampai alasan kres dengan kereta bisnis- eksekutif jurusan Surabaya- Jakarta.

Ketiga adalah permasalahan tidak adanya lampu penerangan permanent di dalam kereta. Masih kurang jelas alasannya kenapa sampai tidak ada lampu penerangan sama sekali, memang terkadang ada petugasataupun penumpang yang menggunakan lilin sebagai alat penerangan di malam hari, tetapi hal ini sangat berbahaya bagi keselamatan, mengingat kereta berjalan dengan cepat dan bergera- gerak. Jadi tidak menutup kemungkinan lilin- lilin penerang tadi bisa jatuh dan membakar apa saja yang ada di sana. Memang belum pernah kejadian tapi apa salahnya waspada. Bahaya lainnya adalah memberi ruang secara luas dan leluasa bagi beraksinya para tukang copet. hal ini memang masalah kewaspadaan individu tetapi alangkah lebih baiknya bila kita ikhtiar bersama- sama untuk kewaspadaan tersebut, karena memang itu lebih baik.

Terakhir adalah masalah kebersihan. Entah kenapa setiap kali saya naik kereta ekonomi selalu melihat keadaan yang kotor dan kumuh, beda halnya ketika saya naik kereta bisnis ataupun eksekutif. Apakah memang pihak penyedia jasa sengaja tidak menyediakan cleaning service untuk kereta kelas ekonomi? Walaupun hanya untuk membersihkan di pagi atau sore hari saja. Memang dalam permasalahan yang satu ini kita tidak boleh hanya menyalahkan pemilik jasa saja tetapi juga peran aktif pengguna jasa untuk selalu menjaga kebersihan dengan tidak membuang sanpah di sembarang tempat.

Entah sampai kapan ungkapan low cost, low safety and service ini akan di jalankan. Memang selama ini pengguna hanya diam dan tidak berdaya, tapi bisa jadi mereka tidak berani atau bahkan tidak tau harus mengadu kemana. Kebanyakan dari mereka hanya pasrah dengan keadaan karena munkin mereka sudah terbiasa seperti itu. Semoga pihak yang terkait tidak hanya diam dengan kepasrahan itu, dan semoga bisa lebih baik.

2 komentar:

Bambang Trismawan mengatakan...

ya emang begitu...
denotasi kelas ekonomi kan semuanya serba ekonomis :-)

karena harga tiketnya di banting maka penumpuangpun harus rela dibanting :-)

ekonomis. suka sama suka. win win solution....

Dzunuraini mengatakan...

ya iya mbang, tapi faktor keselamatan juga harus tetap di perhatikan. Karena resiko juga untuk penyedia jasa kelas ekonomi, mereka tetap harus bertanggungjawab pada konsumennya. thanx commentnya mbang.

 
Design by Pannasmontata modified by maul-keren             Powered by    Blogger