Persahabatan bagai kepompong…syair lagunya memang biasa dan bahkan semua orang mungkin tidak akan pernah menyangka kalau kata-kata sederhana seperti itu bisa menjadi salah satu alternatif lagu universal yang enak didengar.
Syair lagu yang sederhana namun dibingkai dalam makna yang luar biasa… yang membuat kita sejenak melupakan syair-syair lagu kebanyakan. Lagu-lagu tentang percintaan, penghianatan, putus cinta, bahkan selingkuh. Dan sayangnya lagu-lagu tadi sangat dihafal oleh anak-anak dan adik-adik kecil kita. Sebut saja salah satu ajang penyaluran ekspresi dan pencarian bakat anak di salah satu stasiun televisi swasta nasional, di sana kita bisa melihat dan mendengar betapa banyak anak-anak generasi bangsa yang hafal lagu-lagu orang dewasa, dan parahnya lagi bisa jadi mereka lebih hafal syair lagu-lagu tadi yang mungkin mereka tidak pernah paham artinya dari pada lagu kebangsaan Indonesia Raya kita dan lagu-lagu kebangsaan kita yang lainya
SindenTosca dan Lagu persahabatannya memberi angin segar perjalanan musik Indonesia. Meski mereka adalah group band, tapi ternyata mereka bisa juga membuat lagu enak di dengar segala usia. Tidak membuat orang suka berhayal yang bukan-bukan dan terlena.
Persahabatan bagai kepompong... hal yang tak mungkin semuanya jadi indah... Sebuah lirik yang dalam tentang indahnya persahabatan. Yang mengingatkan kita semua bahkan sedikit menyentakkanku, membuatku kembali mengingat sahabat-sahabatku yang beragam sifatnya... terkadang ada kesamaan... bahkan kadang juga ada pertentangan. Ada ketulusan, ada juga persaingan. Itulah sedikit contoh dari dinamika persahabatan.
SMA dulu, sejak kelas satu, aku punya dua sahabat namanya Esti dan Lely. Kemana-mana kami selalu bersama...tau sendiri kan gimana anak SMA. Teman-teman biasa menyebut kita tiga serangkai. Hee ... mungkin itu karena kita sangat nge fans sama tokoh-tokoh tiga serangkai kali ya. Lely biasa memanggilku ” Ndur”, Esti bisa kita panggil Esteh, dan Lely kita panggil Ba’po karena dia wajahnya bulet dan agak ndut. Persahabatan kami berawal karena kita berasal dari SMP yang sama, kemudian merantau dan ketemu di SMA dan kost di kost-an yang sama pula. Sampai ikut ekstrakurikuler karate pun juga sama-sama. Tapi kelas tiga SMA aku, lely dan Esti mlai jarang ketemu karena aku masuk kelas IPS, sedangkan mereka berdua di IPA. Tau sendiri kan anak-anak IPA gimana, mereka terlalu sibuk berkutat dengan rumus-rumusnya. Tapi di akhir kelulusan Lely jadi juara umum kabupaten loh, NEM nya terbagus se-kabupaten. Bangga juga punya temen kayak dia. Lely Melanjutkan kuliah ke Akademi Kebidanan, Esti ke pendidikan Matematika UNESA, dan Aku ke Bahasa Inggris UNAIR. Sekarang aku kehilangan jejak mereka.
Kuliah di UNAIR tidak membatasi pergaulanku hanya sebatas kampus, sekarang ni aku sudah punya sahabat-sahabat yang baik dan tulus. Karena saking lengketnya aku dan Maul sahabatku mendapat julukan duet maut. Kemarin awal November, tepatnya tanggal 5 November 2008, saat kita menikmati panas dinginnya Makassar, kami telah berhasil mendeklarasikan Three Angels, Endang, Dewi, dan Yusti. Akrabnya persahabatan kami dimulai dari Bumi Gora NTB, karena intensitas komunikasi dan ketemuan kita sangat sering akhirnya terbentuklah Three Angels dengan PR nya Maul.
Persahabatan itu bukan oportunis. Sebuah persahabatan tidak bisa diperlakukan seperti halnya permainan judi atau bisnis, butuh ketika ada perlunya saja. Karena persahabatan itu pasti akan berakhir dengan indah, meski ada riak atau kerikil-kerikil di dalamnya. Lagu Sindentosca membuka kembali memoriku tentang hal itu. persahabatan yang sesungguhnya, tetapi tidak mengurangi kemanusiawiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar