Minggu, 19 September 2010
Tradisi Lebaran; Dangdutan Erotis di Waduk Gondang Berujung Tawuran
Tidak biasanya siang hari selama bulan Ramadhan saya dan keluarga besar menonton berita di televisi. Bau lebaran masih belum hilang, usai menjamu para tamu dan saudara yang kebetulan datang dari Surabaya, H+3 pasca idul fitri ini saya iseng-iseng menonton berita televisi, kebetulan yang saya putar saat itu adalah Patroli Siang Indosiar, awalnya saya tidak terlalu kaget ketika melihat berita tersebut, sudah sering kita jumpai berita dangdutan atau acara-acara konser musik yang berujung bentrokan penontonnya. Namun yang kemudian membuat saya jadi lebih antusias lagi adalah konser orkes tersebut menyuguhkan tarian-tarian erotis, penyanyi-penyanyinya menari di atas panggung dengan gerakan yang tak sepantasnya di lakukan di tempat terbuka, apalagi di lokasi obyek wisata keluarga seperti itu, yang tak jarang pula pengunjungnya banyak yang membawa anak-anak kecil sebagai bagian dari keluarganya. Setelah saya simak berita tadi secara lebih detail, ternyata aksi tersebut terjadi pada hari Minggu, 12 September 2010, dan yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah bahwa lokasi acara musik tersebut berada di salah satu tempat obyek wisata terkenal di Kabupaten Lamongan, yakni obyek wisata waduk Gondang Lamongan.
Makna Idul Fitri
Dalam wikipedia Idul Fitri adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Pastilah semua manusia seluruh dunia mengetahui tentang hal ini, yang kemudian di tandai dengan dilantunkannya takbir beserta kalimat puji-pujian terhadap Allah tanda berakhirnya puasa di bulan Ramadhan. Puasa selama satu bulan penuh yang tak hanya menahan makan dan minum saja melainkan nafsu-nafsu lainnya pula.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya salah satu esensi idul fitri adalah bagaimana manusia kembali pada kesucian yang implementasinya pada perilaku dan sikap saling memaafkan dan berkasihsayang antar sesama dan berharap agar amalan-amalan di bulan Ramadhan bisa untuk bekal pemanasan melanjutkan hidup lebih baik di sebelas bulan berikutnya. Namun, kenyataan sebaliknya ternyata telah terjadi, alih-alih menghormati kaum muslimin yang sedang merayakan Lebarannya, tarian erotis di ruang publik tersebut lagi-lagi malah berujung tawuran.
Menengok Kembali Sejarah Religiusitas Masyarakat Lamongan
Melihat kenyataan yang terjadi di kawasan wisata Waduk Gondang yang tanggal 12 September 2010 kemarin, semakin memperlihatkan perkembangan permasalahan sosial kemasyarakatan di kota soto tersebut. Sepertinya sudah semakin terlupakan bahwa Lamongan adalah salah satu Kabupaten dengan tingkat religiusitas yang cukup mapan. Sedikit mencuplik fakta sejarah Lamongan, makam salah satu anggota wali songo, yaitu Raden Qosim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Sunan Drajat, penyebar agama Islam yang letakknya berada di Kecamataan Paciran, Kabupaten Lamongan. Menurut buku berjudul Biografi dan Legenda Wali Sanga Karangan MB. Rahimsyah AR, Raden Qosim atau Sunan Drajat memang sengaja di perintahkan oleh ayahandanya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di sebelah barat Gersik yaitu daerah kosong antara Tuban dan Gersik. Hal ini menunjukkan bahwa dari zaman para wali, Lamongan adalah salah satu tempat yang mendapat perhatian lebih dari para Wali Penyebar Agama Islam. Kepergian Sunan Drajat ke Lamongan tidak melaluai jalan darat, melainkan melewati laut. Di tengah-tengah lewat laut Sunan Drajat mengalami musibah. Tiba-tiba perahu terbalik dan datanglah pertolongan Allah, beliau diselamatkan oleh ikan dan dihantarkan sampai ke pinggir pantai Lamongan (Tabloid Posmo 11 Agustus 2010). Tepatnya di desa Jelag (sekarang masuk desa Banjarwati). Di tempat itu Raden Qosim disambut masyarakat dengan antusias, lebih-lebih setelah mereka tahu bahwa beliau adalah putra Sunan Ampel, seorang wali besar yang masih kerabat keraton Majapahit (MB. Rahimsyah AR., 1997). Letak Lamongan yang berbatasan langsung dengan pesisir pantai membuat logis kalau Lamongan menjadi sasaran penyebaran Islam generasi awal di Pulau Jawa.
Bukti lain menunjukkan bahwa Lamongan memang memiliki emosional spiritual keagamaan yang tinggi adalah, bahkan di zaman-zaman penjajahan belandapun, dalam mempertahanan kemerdekaan banyak para kyai yang berperan. Tidak asing lagi nama Kyai Amin, kyai asal Desa Tunggul yang namanya hingga kini telah diabadikan menjadi sebuah nama jalan di tengah jantung kota Lamongan. Bahkan hingga saat ini masih berdiri kokoh pesantren dengan spirit Kyai Amin, walaupun di masa-masa penjajahan pesantren itu sempat bubar diobrak abrik oleh Belanda, namun pada 1952, putra-putri Kyai Amin kemudian membangun kembali ponpesnya tersebut dan diberi nama Ponpes Al-Amin ( Radar Bojonegoro, 10 November 2009). Disinilah tepatnya bagaimana kita seharusnya menoleh kembali kebelakang dengan segala perjalanan sejarah panjang perjalanan hidup tokoh-tokoh sejarah dan masyarakat Lamongan yang tak pernah lepas dari yang namanya sikap religiusitas yang senantiasa mengajarkan pendidikan moral, agama, dan ilmu-ilmu kebaikan ditengah-tengah masyarakatnya bukan malah memicu pertikaian sesama.
Kesiapan Penyelenggara dan Pengamanan
Sebenarnya sudah sering terjadi hal serupa di Lamongan, apalagi di acara konser musik setelah hari raya. Seperti dilansir sebuah media online di tahun 2009, konser dangdut untuk meramaikan libur Lebaran di tempat wisata Waduk Gondang di Desa Gondang, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur diwarnai aksi tawuran antarpenonton (Suara Karya Online, 24 September 2009). Perkelahian-perkelahian semacam itu banyak terjadi hanya karena masalah-masalah sepele, psikologi penonton dan kondisi panas udara di ruang terbuka dengan jubalan penonton saat konser juga kerap menjadi pemicu, terkadang penonton juga ada yang mengkonsumsi miras saat menonton konser, apalagi dengan pemicu goyang erotis penyanyi-penyanyinya yang berpakaian minim adalah bumbu yang lengkap sebagai pemicu tawuran. Berdasar informasi yang dihimpun, semula konser dangdut itu berjalan lancar, seluruh penontot larut dalam irama musik dangdut. Namun saat seluruh artis lokal yang tampil bareng hendak turun panggung kericuhan terjadi. Diduga aksi tawuran dipicu karena aksi saling dorong antarpenonton saat berjoget (Antara News Jawa Timur,23 September 2009). Awalnya memang terkadang hanya soal senggolan, tapi tak jarang ujungnya adalah pertikaian. Apalagi sebagaian besar penonton adalah didominasi remaja dan pria. Dan karena sudah kerap terjadi itulah , seharusnya penyelenggara harus lebih preventif lagi terhadap kejadian-kejadian yang berdampak pada perkelahian atau tawuran seperti ini. Bukan malah menampilkan penari penari dan penyanyi yang berjoget erotis dan menjijikkan yang mengakibatkan penonton hilang kontrol. Karena kalau mau ditelisik lebih jauh, usaha untuk tidak menampilkan biduan-biduan yang erotis dan seronok itu adalah salah satu cara untuk mengurangi tingkat naiknya libido penonton yang kerap berakhir rusuh.
Selain hal di atas, mengenai pengamanan, karena sudah pernah terjadi di lokasi yang sama dan dalam rangka acara yang sama, seharusnya pihak keamanan juga harus lebih waspada lagi, kesiapa armadanya dengan perhitungan resiko kejadian serupa yang sudah pernah terjadi tentunya harus lebih bisa menjadikan hal ini sebagai pengalaman berharga. Kalau pihak keamanan di final Liga Indonesia 2010 di Solo baru-baru ini saja bisa meng-cut atau menghentikan sepihak jalannya pertandingan yang sedang belangsung di tengah lapangan hijau, yakni aparat dengan mudahnya mengintervensi role-peraturan yang sudah paten dari FIFA demi meredam tawuran, kenapa harus sulit kalau hanya untuk mempertimbangkan boleh atau tidaknya sebuah konser musik yang sudah pernah ricuh di tahun sebelumnya yang kalau diadakan lagi belum tentu malah memberi maslahat, kenyamanan dan keamanan pada pengunjung yang ingin menikmati liburan. Kalaupun ini hanya sikap egois pihak penyelenggara saja untuk menarik datangnya pengunjung sebesar-besarnya, rasa-rasanya kurang eloklah kalau ini terjadi apalagi dilakukan untuk mengisi liburan disaat kaum muslimin yang masih dalam suasana Idul Fitri.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar