Dilahirkan di di Desa Lumbangsari, Krebet, Malang, 81 tahun lalu, yaitu di tahun 1928. Suwoko adalah salah satu pahlawan kemerdekaan, tepatnya pahlawan yang ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada saat menghadapi Agresi Militer Belanda II, tahun 1949. Seusai lulus dari sekolah *kadet di Malang, kemudian dia ditugaskan untuk menjadi komandan regu I seksi I pasukan tamtama Kdm ( Kodim) Lamongan.
Napaktilas bersama ayah saya di bulan November lalu, mengantarkan saya untuk menelisik lebih jauh tentang sosok Suwoko ini. Sosok yang di abadikan sebagai sebuah nama jalan di jantung kota Lamongan, sosok yang banyak menginspirasi masyarakat Lamongan, termasuk sebagai icon LA Mania (superter club sepakbola Persela Lamongan-red).
Dari monumen gugurnya Suwoko yang berada di Desa Gumantuk, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, tertera tanggl 9, bulan 3, tahun 1949. Di tugu yang bertuliskan “ Tugu Peringatan, Mengenang Jasa Para Pahlawan “ itu tertera beberapa nama diantaranya adalah Suwoko- Kadet TNI, Widodo- Kopral TNI, Sukaeri- Kopral TNI, serta Lasiban- Kopral TNI. Memang Suwoko tidak gugur sendiri saat itu, fakta ini juga diperkuat oleh cerita heroik yang bersumber dari catatan Sejarah Kodim 0812 Lamongan, bahwasannya kisah nyata gugurnya Kadet Suwoko dan kawan- kawannya itu terjadi pada hari Minggu 9 Maret 1949. Saat itu hari sudah menjelang siang, Suwoko dan 7 orang temannya beristirahat disebuah surau di Desa/ Kecamatan Laren, tak lama kemudian ada laporan dari penduduk kalau ada truk yang berisikan 7 serdadu Belanda terperosok di parit sekitar Desa Parengan, Kecamatan Maduran.
Regu Suwoko segera berangkat, karena saat itu senjata yang dibawa oleh regu Suwoko hanya berjumlah 7 buah, maka mereka kemudian memutuskan agar salah satu dari mereka yaitu Soemarto, untuk tetap tinggal, tidak mengikuti penyerbuan.
Kebetulan letak Desa Parengan berada di sebelah selatan Bengawan Solo, sedangkan Desa Laren ada di sebelah Utara Bengawan Solo, maka mau tidak mau Suwoko dan teman-temannya harus menyebrang menyusuri sungai terpanjang di Pulau Jawa itu. Dengan menaiki perahu sederhana, Kemudian masih dilanjutkan lagi dengan melewati semak kebun Bengkuang, karena kebetulan saat itu sedang musim bengkuang, akhirnya Suwoko dkk berhasil mendekati lokasi truk Belanda dan mereka sepakat akan menyerang dengan menggunakan tembakan salvo jika sudah pada jarak tembak yang tepat. Sesampainya di lokasi, ternyata situasi berubah, tidak sesuai dengan informasi dan strategi awal yang telah dirancang sebelumnya, karena tiba-tiba datang truk Belanda lainnya yang berisi penuh serdadu, sekitar 37 orang tambahan kekuatan Belanda saat itu, tentunya dengan persenjataan yang lebih lengkap dan canggih pula jika dibandingkan dengan senjata Suwoko dkk yang hanya peniggalan dan sisa-sisa tentara Jepang.
Meskipun kekuatan Belanda menjadi berlipat ganda, ternyata hal ini tidak sedikitpun menciutkan nyali regu Suwoko. Mereka tetap melakukan serangan bertubi-tubi pada Tentara Belanda, tak sediikit Serdadu Belanda yang mati dalam insiden ini, sehingga serdadu-serdadu itu panic, lalu menambah kekuatan serangan mereka. Karena jumlah yang lebih sedikit dan persenjataan yang minim itu, akhirnya Suwoko dkk menjadi terdesak dan berencana untuk mundur, namun upaya mundur itu gagal dilakukan sebab diam-diam beberapa tentara Belanda sudah berada di belakang dan menghadang mereka. Hal inilah yang menjadikan Suwoko dan kawan-kawan akhirnya memutuskan untuk menerobos hingga ke Desa Gumantuk Kecamatan Maduran, kebetulan desa itu memang tak jauh dari Desa Parengan, Dua orang teman Suwoko berhasil menerobos kepungan musuh, dan satu lagi berpura-pura mati, tetapi tidak bagi Suwoko yang saat itu sudah tertembak kedua lengannya dan tergeletak tanpa daya.
Tak lama kemudian, datang serdadu Belanda yang bertanya mengenai namanya dengan suara keras membentak. Namun suwoko waktu itu mengaku bernama Soewignyo. Lalu Belanda memaksanya untuk ikut ke markasnya di Sukodadi, Lamongan, tapi Suwoko menolaknya sambil berkata “ Saya tidak mau menyerah!! Bunuh saya!! “. Serdadu belanda merasa geram, lalu menusuk dada kiri serta menembak pipi Sowoko hingga dia langsung gugur seketika itu juga.
Fakta sejarah lainnya saya dapatkan dari seorang lelaki tua yang usianya sudah kepala tujuh, berasal dari desa Pringgoboyo (sumber tidak mau disebutkan namanya), beliau adalah saksi hidup sekaligus ikut memakamkan Kadet Suwoko waktu itu. Beliau bercerita bahwa saat itu Suwoko juga sempat mampir di surau di desa Pringgoboyo, Maduran, Lamongan untuk melakukan sholat Dhuhur. Memang kalau dikaitkan dari catatan sejarah dari Kodim tadi hal ini masih bisa diterima oleh akal sehat, karena dari sumber cerita Kodim Lamongan tadi telah disebutkan bahwa Suwoko dkk menuju Parengan pada hari minggu menjelang siang, kita coba garis bawahi makna dua kata yang disebut dsana, yakni menjelang siang, maka menjadi masuk nalar akal jika memang ada sumber yang menyebutnya sempat mampir sholat di Pringgoboyo, mengingat letak Pringgoboyo juga tak terlalu jauh dari Parengan.
Sumber juga menyebutkan bahwa, setelah gugur bersama tiga orang kawannya, mereka kemudian langsung dimakamkan oleh warga desa setempat termasuk juga disaksikan oleh anggota regunya yang berpura-pura meninggal saat pertempuran tadi, mereka berempat dianggap mati syahid sehingga dimakamkan tanpa dimandikan dan dikafankan.
Itulah sekelumit kisah Suwoko, kadet muda yang gugur diusia 21 tahun di Kota Soto, Lamongan. Semoga masih ada pemuda-pemuda lain yang keberaniannya melebihi Suwoko dan namanya akan selalu diabadikan sejarah sebagai “pahlawan-pahlawan” pada zamannya masing-masing. Yang berjuang dan berkorban tanpa pamrih demi mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia tercinta.
Oleh : Endang Dzunuraini Sahlan*
Surabaya Malam hari, tanggal 07 November 2009
*kadet = letnan
* Endang Dzunuraini Sahlan adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya, saat ini bersama ayahnya Sahlan Yahya S. Ag., sedang menyelesaikan penulisan buku yang berjudul Pahlawan-Pahlawan Lamongan yang Diabadikan Jalan.
Senin, 09 November 2009
Rabu, 06 Mei 2009
Generasi Yang Semakin Terbuka
Berawal dari sebuah perkenalan kecil dengan seorang kerabat kiyai terkenal di Jawa Timur. Subhanallah ... tak henti- hentinya kata itu ku ucapkan ketika aku bertemu sesosok putri kerabat kiyai itu. Sosok yang begitu mengejutkan. Dia tidak mau lagi dipanggil dengan sebutan “ning“. Sebutan yang biasa digunakan untuk kalangan bangsa priayi kerabat kiyai.
Syarifah namanya. Dia kuliah di salah satu universitas negeri terkenal di Surabaya, Jawa Timur. Universitas Airlangga namanya. Karena mengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional, mangkanya dia cukup menguasai beberapa bahasa asing. Perancis, Arab, Korea, Jepang, terutama Bahasa Inggris ada di luar kepalanya alias mahir.
Kalau mencari rujukan tentang perpolitikan luar ngeri, disana tempatnya. Apalagi berbicara tentang lobby melobby, dialah ahlinya. Aku sering kali menggodanya dengan memanggilnya Ning Ifah, tapi dia selalu marah dan menolak jika dipanggil demikian. Berbeda halnya dengan kalangan keluarga kiyai yang lain. Sebutan ning dan gus adalah hal yang prestis bagi mereka, apalagi kalangan nahdliyin.
Subhanallah...dia bukanlah sosok anak kiyai pingitan. Dia berharap mampu menjawab perubahan jaman dengan keterbukaannya menerima perubahan dalam kebaikan.
Selama ini aku sering sekali menjumpai anak gadis kiyai yang tinggalnya hanya dilingkungan pesantren saja. Belajar kitab kuning sampai menghafal Al- qur’an adalah rutinitas sehari-hari yang mereka kerjakan. Setelah itu tak lama kemudian kalau ada yang meminta anak gadisnya untuk dijadikan menantu, segeralah mereka menikahkannya. Tak peduli walaupun usia mereka masih relatif belia. Itulah realita yang sering kujumpai disana.
Siang tadi Ning Ifah bercerita padaku. Cerita tentang kakak perempuannya yang bernama Aisyah. Dia lebih sering memanggilnya dengan sebutan mbak Icha. Mbak Icha berusia 21 tahun. Selama ini dia hidup di pesantren. Usia 21 tahun dia sudah hafal Al qur’an atau biasa disebut hafidzah. Kataya dia sudah diminta keluarga kiyai yang lain untuk dijadikan menantunya.
Itulah realita siklus kehidupan keluaga kiyai yang lazim kita jumpai. Tidak buruk memang…dan bahkan mungkin itu lebih mulia dari siklus kehidupan lainnya.
***
Pernyataan yang mengejutkan ketika Ning Ifah siang itu mengatakan padaku bahwa dia sudah berpesan kepada Abbahnya, kalau dia mau menikah dengan siapa saja pilihan abbahnya, asalkan dia sudah lulus kuliahnya. Memang sih masih kental dengan perjodohan ala keluarga kiyai, tapi perubahan keterbukaan disini adalah syarat lulus kuliah terlebih dahulu yang diberikan oleh Ning Ifah kepada abbahnya, setelah itu baru dia mau mempercayakan hidupnya dengan pilihan abbahnya.
Subhanallah…sebuah pergeseran kalangan generasi kiyai ke arah yang lebih terbuka. Betapa tidak, dia sudah mampu menentukan pilihan nasibnya dengan signifikan. Mulai dari pilihan studi di sekolah umum milik pemerintah sejak di bangku SMP sampai dengan pilihan untuk meneruskan kuliah di perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang jauh dari yang biasa dipilih oleh kalangan keluarga pesantren. Sebuah pilihan yang mengejutkan dan berani. Sehingga bisa merubah image kalangan pesantren salafiyah ke arah keterbukaan dan perubahan dengan berharap tidak mengenyampingkan kebaikan untuk menjawab tantangan jaman sebagai seorang muslim yang berjiwa besar.
Inspired by Ning Mumun yang sedang dilema :)
Sabar nggih Ning.............................................
pasti Allah sudah menyiapkan skenario terbaik untukmu ;)
Syarifah namanya. Dia kuliah di salah satu universitas negeri terkenal di Surabaya, Jawa Timur. Universitas Airlangga namanya. Karena mengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional, mangkanya dia cukup menguasai beberapa bahasa asing. Perancis, Arab, Korea, Jepang, terutama Bahasa Inggris ada di luar kepalanya alias mahir.
Kalau mencari rujukan tentang perpolitikan luar ngeri, disana tempatnya. Apalagi berbicara tentang lobby melobby, dialah ahlinya. Aku sering kali menggodanya dengan memanggilnya Ning Ifah, tapi dia selalu marah dan menolak jika dipanggil demikian. Berbeda halnya dengan kalangan keluarga kiyai yang lain. Sebutan ning dan gus adalah hal yang prestis bagi mereka, apalagi kalangan nahdliyin.
Subhanallah...dia bukanlah sosok anak kiyai pingitan. Dia berharap mampu menjawab perubahan jaman dengan keterbukaannya menerima perubahan dalam kebaikan.
Selama ini aku sering sekali menjumpai anak gadis kiyai yang tinggalnya hanya dilingkungan pesantren saja. Belajar kitab kuning sampai menghafal Al- qur’an adalah rutinitas sehari-hari yang mereka kerjakan. Setelah itu tak lama kemudian kalau ada yang meminta anak gadisnya untuk dijadikan menantu, segeralah mereka menikahkannya. Tak peduli walaupun usia mereka masih relatif belia. Itulah realita yang sering kujumpai disana.
Siang tadi Ning Ifah bercerita padaku. Cerita tentang kakak perempuannya yang bernama Aisyah. Dia lebih sering memanggilnya dengan sebutan mbak Icha. Mbak Icha berusia 21 tahun. Selama ini dia hidup di pesantren. Usia 21 tahun dia sudah hafal Al qur’an atau biasa disebut hafidzah. Kataya dia sudah diminta keluarga kiyai yang lain untuk dijadikan menantunya.
Itulah realita siklus kehidupan keluaga kiyai yang lazim kita jumpai. Tidak buruk memang…dan bahkan mungkin itu lebih mulia dari siklus kehidupan lainnya.
***
Pernyataan yang mengejutkan ketika Ning Ifah siang itu mengatakan padaku bahwa dia sudah berpesan kepada Abbahnya, kalau dia mau menikah dengan siapa saja pilihan abbahnya, asalkan dia sudah lulus kuliahnya. Memang sih masih kental dengan perjodohan ala keluarga kiyai, tapi perubahan keterbukaan disini adalah syarat lulus kuliah terlebih dahulu yang diberikan oleh Ning Ifah kepada abbahnya, setelah itu baru dia mau mempercayakan hidupnya dengan pilihan abbahnya.
Subhanallah…sebuah pergeseran kalangan generasi kiyai ke arah yang lebih terbuka. Betapa tidak, dia sudah mampu menentukan pilihan nasibnya dengan signifikan. Mulai dari pilihan studi di sekolah umum milik pemerintah sejak di bangku SMP sampai dengan pilihan untuk meneruskan kuliah di perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang jauh dari yang biasa dipilih oleh kalangan keluarga pesantren. Sebuah pilihan yang mengejutkan dan berani. Sehingga bisa merubah image kalangan pesantren salafiyah ke arah keterbukaan dan perubahan dengan berharap tidak mengenyampingkan kebaikan untuk menjawab tantangan jaman sebagai seorang muslim yang berjiwa besar.
Inspired by Ning Mumun yang sedang dilema :)
Sabar nggih Ning.............................................
pasti Allah sudah menyiapkan skenario terbaik untukmu ;)
Langganan:
Postingan (Atom)