Berawal dari sebuah perkenalan kecil dengan seorang kerabat kiyai terkenal di Jawa Timur. Subhanallah ... tak henti- hentinya kata itu ku ucapkan ketika aku bertemu sesosok putri kerabat kiyai itu. Sosok yang begitu mengejutkan. Dia tidak mau lagi dipanggil dengan sebutan “ning“. Sebutan yang biasa digunakan untuk kalangan bangsa priayi kerabat kiyai.
Syarifah namanya. Dia kuliah di salah satu universitas negeri terkenal di Surabaya, Jawa Timur. Universitas Airlangga namanya. Karena mengambil jurusan Ilmu Hubungan Internasional, mangkanya dia cukup menguasai beberapa bahasa asing. Perancis, Arab, Korea, Jepang, terutama Bahasa Inggris ada di luar kepalanya alias mahir.
Kalau mencari rujukan tentang perpolitikan luar ngeri, disana tempatnya. Apalagi berbicara tentang lobby melobby, dialah ahlinya. Aku sering kali menggodanya dengan memanggilnya Ning Ifah, tapi dia selalu marah dan menolak jika dipanggil demikian. Berbeda halnya dengan kalangan keluarga kiyai yang lain. Sebutan ning dan gus adalah hal yang prestis bagi mereka, apalagi kalangan nahdliyin.
Subhanallah...dia bukanlah sosok anak kiyai pingitan. Dia berharap mampu menjawab perubahan jaman dengan keterbukaannya menerima perubahan dalam kebaikan.
Selama ini aku sering sekali menjumpai anak gadis kiyai yang tinggalnya hanya dilingkungan pesantren saja. Belajar kitab kuning sampai menghafal Al- qur’an adalah rutinitas sehari-hari yang mereka kerjakan. Setelah itu tak lama kemudian kalau ada yang meminta anak gadisnya untuk dijadikan menantu, segeralah mereka menikahkannya. Tak peduli walaupun usia mereka masih relatif belia. Itulah realita yang sering kujumpai disana.
Siang tadi Ning Ifah bercerita padaku. Cerita tentang kakak perempuannya yang bernama Aisyah. Dia lebih sering memanggilnya dengan sebutan mbak Icha. Mbak Icha berusia 21 tahun. Selama ini dia hidup di pesantren. Usia 21 tahun dia sudah hafal Al qur’an atau biasa disebut hafidzah. Kataya dia sudah diminta keluarga kiyai yang lain untuk dijadikan menantunya.
Itulah realita siklus kehidupan keluaga kiyai yang lazim kita jumpai. Tidak buruk memang…dan bahkan mungkin itu lebih mulia dari siklus kehidupan lainnya.
***
Pernyataan yang mengejutkan ketika Ning Ifah siang itu mengatakan padaku bahwa dia sudah berpesan kepada Abbahnya, kalau dia mau menikah dengan siapa saja pilihan abbahnya, asalkan dia sudah lulus kuliahnya. Memang sih masih kental dengan perjodohan ala keluarga kiyai, tapi perubahan keterbukaan disini adalah syarat lulus kuliah terlebih dahulu yang diberikan oleh Ning Ifah kepada abbahnya, setelah itu baru dia mau mempercayakan hidupnya dengan pilihan abbahnya.
Subhanallah…sebuah pergeseran kalangan generasi kiyai ke arah yang lebih terbuka. Betapa tidak, dia sudah mampu menentukan pilihan nasibnya dengan signifikan. Mulai dari pilihan studi di sekolah umum milik pemerintah sejak di bangku SMP sampai dengan pilihan untuk meneruskan kuliah di perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang jauh dari yang biasa dipilih oleh kalangan keluarga pesantren. Sebuah pilihan yang mengejutkan dan berani. Sehingga bisa merubah image kalangan pesantren salafiyah ke arah keterbukaan dan perubahan dengan berharap tidak mengenyampingkan kebaikan untuk menjawab tantangan jaman sebagai seorang muslim yang berjiwa besar.
Inspired by Ning Mumun yang sedang dilema :)
Sabar nggih Ning.............................................
pasti Allah sudah menyiapkan skenario terbaik untukmu ;)
Rabu, 06 Mei 2009
Langganan:
Postingan (Atom)