Udah berangkatnya telat, gak bawa kamera lagi... cuma modal kartu pers yang masa berlakunya hampitr habis lagi. Pakaian dan barang bawaan gak wartawan bgt deh, malah kelihatan kayak orang mo kondangan... semua serba dadakan deh...
penennya sih nekat berangkat sendiri, tapi tak terduga ada Bayti yang siap jadi ojek, hehe. Padahal udah sms beberapa pentolan gerakan d surabaya... tapi ternyata gak ada balasan,,, jadi blm bisa bayangin keadaan medan kayak apa.
sesampainya di delta udah ketemu kumpulan banyak anak2 gmni yang lagi bersiap long march menuju grahadi. Niatnya tadi mo ngliput BEM SI yang katanya hari ini juga turun, ehhh ternyata ga lihat sama sekali anak2 BEM SI dsana.
Udah nasib jalan menuju Grahadi pada di potong, akhirnya harus muter lewat Kedung Doro... motor mau gak mau harus diparkir di selatan TP, karena itu satu2nya tempat parkir yang paling dekat dengan Grahadi.
Ku tanya ke Bayti: "gmana anti berani terus ga?", dan bBayti menjawab: "InsyaAlloh berani mbak". ( karena kulihat dari kejauhan kayaknya laki2 semua deh... gak terlihat perempuan sama sekali..aku agak mikir, klo sampe ada apa2 aku juga harus tanggung jawab terhadap Bayti).
Tetap kuberanikan langkahku dengan Bismillah.... semakin deka dengan titik masa, tak satupun orang yang ku kenal dsana... Bayti ku suruh nunggu d sebelah trotoar, lalu aku yang masuk melewati tali pembatas yang di pasang aparat. hiruk pikuk keadaannya, aku coba menenangkan diri sejenak... lalu dengan PD nya, hehe, ku dekati kerumunan Forum Aksi Mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma atau FAM UWK, " mas pers realisenya masih ada?"... lalu salah satu pimpinannya menemuiku dan memberikan selembar pers realise nya.
tak lama kemudian datang lagi segerombolan mahasiswa, klo yang ini dengan banyak bendera... ada GMNI, PMII, HMI, dan PMKRI... ternyata mereka kelompok Cipayung. Lalu dengan tanpa basa basi lagi ku dekati Korlapnya... dan seterusnya sampai akhirnya giliran Pimpinan temen2 PRD.
Udah dapet semua bahannnyaa, tapi Fotonya yang gak ada... muter otak lagi deh... Subhanalloh, benar2 pertologan Alloh... ketemu ma cewek gaya wartawan yang ternyata Adek angkatan di Unair, gak sempat nanya dia dari media mana...yang penting udah kuloby dia untuk share Fotonya. hehe, tapi lupa gak sempet nyuruh dia abadikan gambarku di tengah lautan merah manusia, (narsis nya tetep dunk)
Sudah cukup kangen2annya ma adek angkatan... sekarang waktunya dengerin orasi pak Dhe karwo yang disambut teriakan massa... " Karwo tanda tangan...Karwo Tanda Tangan!!!", dengan masih dalam kawalan kapolda...akhirnya Pak De Karwo mau tanda tangan Juga... (Gak jadi panas deh aksinya, lha pancen Surabaya mendung je waktu itu, hehe)
Suasana menjadi sedikit ricuh saat Angsa berkaos SBY_Boediono dan Replika NPWP dikeluarkan. Koordinator aksi beberapa kali menyerukan untuk satu komando dan tidak ada bakar2an. Yah.. ternyata cuma kerjaan wartawan biar aksi tambah seru. hehe
Akhirnya Aku dan Bayti memutuskan untuk mundur ke Trotoar....
Eh...ternyata ada yang menyapku dari samping kiri, " ngapain disini?". Tak asing wajah orang ini bagiku, ya Alloh baru ingat aku kalau dia adalah seorang Agen. Langsung saja kusodorkan kartu Persku, hehe... ternyata sepertinya dia masih tak puas, Bayti yang kebetulan memakai jaket gerakan (yang gak ikut aksi hari ini) ditanya juga olenya..." lha mbak ini?"(sambil menunjuk k arah Bayti), Lalu dijawab oleh Bayti: " nganterin mbak ini" (sambil menunjuk ke arahku). Hehe, males banget nglayanin orang kayak gitu, sekali2 aku pengen ngerjain dia...biar gak dia aja yang suka ngerjain orang, batinku dalam hati. kuabaikan dia sambil mengsms Mega Jabar, akhirnya dia pergi sendiri... (gak pamit lagi)
Akhirnya bisa ngerjain Agen. Salahnya sendiri....Ngapain juga dia ada disini, nyapa2 sok kenal lagi...emang dasar agen... :P
Jumat, 29 Januari 2010
Jumat, 22 Januari 2010
Bu Suroso oh bu Suroso...
Malam tadi perjalalanan dari Lamongan ke Surabaya. sengaja mampir ke Stasiun Lamongan untuk beli karcis komuter.Lalu seperti biasa tetap sendirian duduk menunggu di samping komuter dengan sabar, karena komuternya baru berangkat sekitar pukul 18.30 dari Lamongan ke Surabaya.
Beberapa saat sebelum komuter berangkat, aku lalu naik dan mencari tempat duduk. tak disangka ternyata disebelahku duduk seorang ibu paruh baya yang tadi sempat menyapaku dengan senyumnya, saat kami sama2 menuju mushola untuk sholat Maghrib beberapa waktu yang lalu.
Kami lalu berbincang2, bercerita2 panjang lebar. . .ternyata beliau tiap pekan selalu menyempatkan untuk "sambang" k rumah anaknya yang di Lamongan. " Anak saya seusia laki2 satu2nya nak, seusiamu,dia polisi kebetulan dinas di Polres Lamongan. jadi tiap pekan saya selalu k Lamongan untuk mengunjungi putra saya nak", cerita ibu itu sambil senyum. Panjang lebar ibu itu bercerita padaku sampai akhirnya beliau bercerita tentang bagaimana perjuangannya membesarkan keempat anaknya dengan tanpa suami. sebab ditahun 1990an, ketika anak terakhirnya lahir, suaminya meninggal dunia karena sakit lever. jadi beliau mau tidak mau harus bisa bertahan hidup dengan keempat anaknya itu. hari2 dilalui beliau dengan berjualan bakso dan soto di RSUD dr. Soetomo. awalnya ku kira beliau pegawai RSUD, tapi ternyata tidak, kata beliau. . ."walaupun hanya mengandalkan satu petak kecil dibawah tangga lantai 4 RSUD dr. Soetomo itu saja, tapi ternyata saya bisa mbertahan hidup dan bisa menyekolahkan anak saya sihingga mereka semua kini bisa mandiri nak, apalagi saat pelantikan anak saya yang polisi ini nak, dalam hati saya berkata; alangkah bahagianya jika bapakknya bisa menyaksikan perjuangan ini, hingga sampai ke pelantikan ini", tetap dengan senyum dan mata yang sedikit berkaca2 ibu itu melanjutkan ceritanya.
Dalam hati aku hanya bisa melampiaskan maluku dengan kagum padanya, dan berkali2 kuucapkan Subhanalloh, ibu hebat...benar2 hebat... aku telah bertemu dengan perempuan hebat yang kesekian kalinya. . . perjuangan seorang ibu, yang bisa membesarkan keempat putranya dengan gagah berani, tiap pagi beliau lalui dengan bersepeda motor membawa barang dagangannya ke kantin Rumah Sakit, tanpa kenal lelah, meskipun banyak tetangga yang mencibir dan meremehkannya, tapi itulah kekuatan Do'a dan Usaha. . .
Sesampainya di Stasiun Pasar Turi, kami lalu meneruskan perjalanan bersama dengan Lyn C jurusan karangmenjangan. . .ibu itu turun duluan di pertigaan tambaksari, dan aku masih harus terus mengikuti jalan roda angkot sampe menuju unair kampus A.
Sesalku ibu itu trnyata yang membayari angkotku, sedangkan keadaanku karena sudah cukup malam dan posisi yang msh berada di dalam angkot bagian belakang tak mungkin mengejar dan menolak maksud ibu itu, aku hanya bisa berbicara semampuku " bu, ndak usah bu... " dan pak sopir angkotnya sudah keburu menjalankan angkotnya.
bener2 malu aku dibuatnya...( apa aku kelihatan melas bgt ya, sampe beliau yang bayar angkotku, he he trimakasih Bu Suroso atas semua nasihat dan pelajaran hidupnya :D)
Lamongan-Surabaya, 22 Januari 2010 :D
Beberapa saat sebelum komuter berangkat, aku lalu naik dan mencari tempat duduk. tak disangka ternyata disebelahku duduk seorang ibu paruh baya yang tadi sempat menyapaku dengan senyumnya, saat kami sama2 menuju mushola untuk sholat Maghrib beberapa waktu yang lalu.
Kami lalu berbincang2, bercerita2 panjang lebar. . .ternyata beliau tiap pekan selalu menyempatkan untuk "sambang" k rumah anaknya yang di Lamongan. " Anak saya seusia laki2 satu2nya nak, seusiamu,dia polisi kebetulan dinas di Polres Lamongan. jadi tiap pekan saya selalu k Lamongan untuk mengunjungi putra saya nak", cerita ibu itu sambil senyum. Panjang lebar ibu itu bercerita padaku sampai akhirnya beliau bercerita tentang bagaimana perjuangannya membesarkan keempat anaknya dengan tanpa suami. sebab ditahun 1990an, ketika anak terakhirnya lahir, suaminya meninggal dunia karena sakit lever. jadi beliau mau tidak mau harus bisa bertahan hidup dengan keempat anaknya itu. hari2 dilalui beliau dengan berjualan bakso dan soto di RSUD dr. Soetomo. awalnya ku kira beliau pegawai RSUD, tapi ternyata tidak, kata beliau. . ."walaupun hanya mengandalkan satu petak kecil dibawah tangga lantai 4 RSUD dr. Soetomo itu saja, tapi ternyata saya bisa mbertahan hidup dan bisa menyekolahkan anak saya sihingga mereka semua kini bisa mandiri nak, apalagi saat pelantikan anak saya yang polisi ini nak, dalam hati saya berkata; alangkah bahagianya jika bapakknya bisa menyaksikan perjuangan ini, hingga sampai ke pelantikan ini", tetap dengan senyum dan mata yang sedikit berkaca2 ibu itu melanjutkan ceritanya.
Dalam hati aku hanya bisa melampiaskan maluku dengan kagum padanya, dan berkali2 kuucapkan Subhanalloh, ibu hebat...benar2 hebat... aku telah bertemu dengan perempuan hebat yang kesekian kalinya. . . perjuangan seorang ibu, yang bisa membesarkan keempat putranya dengan gagah berani, tiap pagi beliau lalui dengan bersepeda motor membawa barang dagangannya ke kantin Rumah Sakit, tanpa kenal lelah, meskipun banyak tetangga yang mencibir dan meremehkannya, tapi itulah kekuatan Do'a dan Usaha. . .
Sesampainya di Stasiun Pasar Turi, kami lalu meneruskan perjalanan bersama dengan Lyn C jurusan karangmenjangan. . .ibu itu turun duluan di pertigaan tambaksari, dan aku masih harus terus mengikuti jalan roda angkot sampe menuju unair kampus A.
Sesalku ibu itu trnyata yang membayari angkotku, sedangkan keadaanku karena sudah cukup malam dan posisi yang msh berada di dalam angkot bagian belakang tak mungkin mengejar dan menolak maksud ibu itu, aku hanya bisa berbicara semampuku " bu, ndak usah bu... " dan pak sopir angkotnya sudah keburu menjalankan angkotnya.
bener2 malu aku dibuatnya...( apa aku kelihatan melas bgt ya, sampe beliau yang bayar angkotku, he he trimakasih Bu Suroso atas semua nasihat dan pelajaran hidupnya :D)
Lamongan-Surabaya, 22 Januari 2010 :D
Langganan:
Postingan (Atom)