Minggu, 21 Desember 2008
Sabtu sore itu kulihat juanda itu ramai. Di terminal kedatangan domestik terlihat banyak sekali penjemput dan tak sedikit pula orang yang di jemput. Senja menjelang malam itu mataku tertuju pada seorang ibu paroh baya itu berjalan dari parkir mobil menuju kursi ruang tunggu bandara. Lalu duduk. Sesekali matanya diarahkan ke pintu keluar terminal kedatangan.
Karena penasaran kuberanikan diri untuk mendekatinya lalu duduk disampingnya. Kupandangi wajahnya yang terlihat campur aduk itu, antara cemas dan senang sepertinya. Kucoba berbicara dan bertanya-tanya padanya, ternyata ia sedang cemas menunggu kedatangan istri anak laki-lakinya. Dia mengabarkan pulang bersama istri dan putrinya akan pulang. Sudah beberapa tahun putra ibu ini tidak pulang karena dia seorang tentara dan harus bertugas di Pontianak. Ibu itu banyak sekali bercerita tentang kebaikan-kebaikan putranya itu.
Di papan informasi bandara tertulis bahwa estimasi kedatangan pesawat Batavia Air dari Jogja adalah pukul 18.5. karena saat itu cuaca sedang tidak menenntu jadi transit di Jogja nya lumayan lama. Kata ibu itu sambil menjelaskan dengan binar matanya penuh harap anak dan cucunya segera datang dengan selamat.
Tak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki dengan bawaan yang banyak keluar dari pintu bandara, langsung saja menuju tempat ibu tadi kemudian bersalaman dan langsung menangis dipangkuan ibu tadi. Ibu itupun terlihat tenang sambil mengusap-usap kepala orang tadi dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Ternyata yang datang tidak hanya menantu dan cucunya saja, anak laki-laki ibu tu jaga pulang. Aku hanya bisa terbengong melihat adegan yang tak begitu lama itu. Akhirnya sang komandan datang juga dengan istri dan anaknya. Karena ternyata ini adalah kali pertama istri dan anak sang komandan menjajakkan kakinya di pulau jawa ini. Karena istrinya memang bukan orang Jawa, dia orang Aceh yang di hadiahkan oleh Allah saat anak ibu itu di tugaskan menjadi pasukan penyelamat NKRI dari GAM beberapa tahun lalu. Ternyata dia ingin memberi kejutan dengan cara seperti itu pada ibunya. Dengan cara itu dia melampiaskan kekangenan pada ibunya. Ternyata lagi itulah kado besar menjelang hari ibu untuk ibunya tercinta.
Thanks to Allah Swt atas kebahagiaan ini…
Mas Yunus sang Komandan dan itrinya mbk Heny makasih kejutannya...aku sayang kalian...juga ponakanku Kaisa Ebena Yunis…selamat dating di Jawa yo nduk…Mbah uti kemarin sakit, langsung sembuh dengar Bena mau dating, pertama kali ketemu bena di Bandara kemarin pengen banget cubit pipinya…hee
Dan yang terakhir tapi takkan pernah jadi yang terakhir di hatiku…
Aku saying ibu, besok pagi aku ujian bu mohon pangestunipun…mlm ini sengaja kusempatkan menulis ini untuk ibu dengan diiringi lagu bunda Melli Goeslow… aku bingung harus ngasih apa ke ibu di hari ibu besok, dengan segala keterbatasan anakkmu ini, dengan segala kekuranganku ini…inilah anakmu bu….yang kadang mungkin dengan kebodohanku sering mengecewakanmu…tapi engkau tetap bersabar terhadapku…tetap mendo’akanku dan memenuhi kebutuhan-kebutuhanku…do’akan Eni selalu ya bu…Eni belom bisa membahagiakanmu…kau sangat berharga untukku…
Selamat hari ibu untuk ibuku tersayang dan ibu-ibu di seluruh duania.
Surabaya, Malam tanggal 22 Desember 2008
Sabtu, 06 Desember 2008
SindenTosca dan Persahabatannya...
Persahabatan bagai kepompong…syair lagunya memang biasa dan bahkan semua orang mungkin tidak akan pernah menyangka kalau kata-kata sederhana seperti itu bisa menjadi salah satu alternatif lagu universal yang enak didengar.
Syair lagu yang sederhana namun dibingkai dalam makna yang luar biasa… yang membuat kita sejenak melupakan syair-syair lagu kebanyakan. Lagu-lagu tentang percintaan, penghianatan, putus cinta, bahkan selingkuh. Dan sayangnya lagu-lagu tadi sangat dihafal oleh anak-anak dan adik-adik kecil kita. Sebut saja salah satu ajang penyaluran ekspresi dan pencarian bakat anak di salah satu stasiun televisi swasta nasional, di sana kita bisa melihat dan mendengar betapa banyak anak-anak generasi bangsa yang hafal lagu-lagu orang dewasa, dan parahnya lagi bisa jadi mereka lebih hafal syair lagu-lagu tadi yang mungkin mereka tidak pernah paham artinya dari pada lagu kebangsaan Indonesia Raya kita dan lagu-lagu kebangsaan kita yang lainya
SindenTosca dan Lagu persahabatannya memberi angin segar perjalanan musik Indonesia. Meski mereka adalah group band, tapi ternyata mereka bisa juga membuat lagu enak di dengar segala usia. Tidak membuat orang suka berhayal yang bukan-bukan dan terlena.
Persahabatan bagai kepompong... hal yang tak mungkin semuanya jadi indah... Sebuah lirik yang dalam tentang indahnya persahabatan. Yang mengingatkan kita semua bahkan sedikit menyentakkanku, membuatku kembali mengingat sahabat-sahabatku yang beragam sifatnya... terkadang ada kesamaan... bahkan kadang juga ada pertentangan. Ada ketulusan, ada juga persaingan. Itulah sedikit contoh dari dinamika persahabatan.
SMA dulu, sejak kelas satu, aku punya dua sahabat namanya Esti dan Lely. Kemana-mana kami selalu bersama...tau sendiri kan gimana anak SMA. Teman-teman biasa menyebut kita tiga serangkai. Hee ... mungkin itu karena kita sangat nge fans sama tokoh-tokoh tiga serangkai kali ya. Lely biasa memanggilku ” Ndur”, Esti bisa kita panggil Esteh, dan Lely kita panggil Ba’po karena dia wajahnya bulet dan agak ndut. Persahabatan kami berawal karena kita berasal dari SMP yang sama, kemudian merantau dan ketemu di SMA dan kost di kost-an yang sama pula. Sampai ikut ekstrakurikuler karate pun juga sama-sama. Tapi kelas tiga SMA aku, lely dan Esti mlai jarang ketemu karena aku masuk kelas IPS, sedangkan mereka berdua di IPA. Tau sendiri kan anak-anak IPA gimana, mereka terlalu sibuk berkutat dengan rumus-rumusnya. Tapi di akhir kelulusan Lely jadi juara umum kabupaten loh, NEM nya terbagus se-kabupaten. Bangga juga punya temen kayak dia. Lely Melanjutkan kuliah ke Akademi Kebidanan, Esti ke pendidikan Matematika UNESA, dan Aku ke Bahasa Inggris UNAIR. Sekarang aku kehilangan jejak mereka.
Kuliah di UNAIR tidak membatasi pergaulanku hanya sebatas kampus, sekarang ni aku sudah punya sahabat-sahabat yang baik dan tulus. Karena saking lengketnya aku dan Maul sahabatku mendapat julukan duet maut. Kemarin awal November, tepatnya tanggal 5 November 2008, saat kita menikmati panas dinginnya Makassar, kami telah berhasil mendeklarasikan Three Angels, Endang, Dewi, dan Yusti. Akrabnya persahabatan kami dimulai dari Bumi Gora NTB, karena intensitas komunikasi dan ketemuan kita sangat sering akhirnya terbentuklah Three Angels dengan PR nya Maul.
Persahabatan itu bukan oportunis. Sebuah persahabatan tidak bisa diperlakukan seperti halnya permainan judi atau bisnis, butuh ketika ada perlunya saja. Karena persahabatan itu pasti akan berakhir dengan indah, meski ada riak atau kerikil-kerikil di dalamnya. Lagu Sindentosca membuka kembali memoriku tentang hal itu. persahabatan yang sesungguhnya, tetapi tidak mengurangi kemanusiawiannya.