Minggu, 19 September 2010
Tradisi Lebaran; Dangdutan Erotis di Waduk Gondang Berujung Tawuran
Tidak biasanya siang hari selama bulan Ramadhan saya dan keluarga besar menonton berita di televisi. Bau lebaran masih belum hilang, usai menjamu para tamu dan saudara yang kebetulan datang dari Surabaya, H+3 pasca idul fitri ini saya iseng-iseng menonton berita televisi, kebetulan yang saya putar saat itu adalah Patroli Siang Indosiar, awalnya saya tidak terlalu kaget ketika melihat berita tersebut, sudah sering kita jumpai berita dangdutan atau acara-acara konser musik yang berujung bentrokan penontonnya. Namun yang kemudian membuat saya jadi lebih antusias lagi adalah konser orkes tersebut menyuguhkan tarian-tarian erotis, penyanyi-penyanyinya menari di atas panggung dengan gerakan yang tak sepantasnya di lakukan di tempat terbuka, apalagi di lokasi obyek wisata keluarga seperti itu, yang tak jarang pula pengunjungnya banyak yang membawa anak-anak kecil sebagai bagian dari keluarganya. Setelah saya simak berita tadi secara lebih detail, ternyata aksi tersebut terjadi pada hari Minggu, 12 September 2010, dan yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah bahwa lokasi acara musik tersebut berada di salah satu tempat obyek wisata terkenal di Kabupaten Lamongan, yakni obyek wisata waduk Gondang Lamongan.
Makna Idul Fitri
Dalam wikipedia Idul Fitri adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Pastilah semua manusia seluruh dunia mengetahui tentang hal ini, yang kemudian di tandai dengan dilantunkannya takbir beserta kalimat puji-pujian terhadap Allah tanda berakhirnya puasa di bulan Ramadhan. Puasa selama satu bulan penuh yang tak hanya menahan makan dan minum saja melainkan nafsu-nafsu lainnya pula.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya salah satu esensi idul fitri adalah bagaimana manusia kembali pada kesucian yang implementasinya pada perilaku dan sikap saling memaafkan dan berkasihsayang antar sesama dan berharap agar amalan-amalan di bulan Ramadhan bisa untuk bekal pemanasan melanjutkan hidup lebih baik di sebelas bulan berikutnya. Namun, kenyataan sebaliknya ternyata telah terjadi, alih-alih menghormati kaum muslimin yang sedang merayakan Lebarannya, tarian erotis di ruang publik tersebut lagi-lagi malah berujung tawuran.
Menengok Kembali Sejarah Religiusitas Masyarakat Lamongan
Melihat kenyataan yang terjadi di kawasan wisata Waduk Gondang yang tanggal 12 September 2010 kemarin, semakin memperlihatkan perkembangan permasalahan sosial kemasyarakatan di kota soto tersebut. Sepertinya sudah semakin terlupakan bahwa Lamongan adalah salah satu Kabupaten dengan tingkat religiusitas yang cukup mapan. Sedikit mencuplik fakta sejarah Lamongan, makam salah satu anggota wali songo, yaitu Raden Qosim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Sunan Drajat, penyebar agama Islam yang letakknya berada di Kecamataan Paciran, Kabupaten Lamongan. Menurut buku berjudul Biografi dan Legenda Wali Sanga Karangan MB. Rahimsyah AR, Raden Qosim atau Sunan Drajat memang sengaja di perintahkan oleh ayahandanya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di sebelah barat Gersik yaitu daerah kosong antara Tuban dan Gersik. Hal ini menunjukkan bahwa dari zaman para wali, Lamongan adalah salah satu tempat yang mendapat perhatian lebih dari para Wali Penyebar Agama Islam. Kepergian Sunan Drajat ke Lamongan tidak melaluai jalan darat, melainkan melewati laut. Di tengah-tengah lewat laut Sunan Drajat mengalami musibah. Tiba-tiba perahu terbalik dan datanglah pertolongan Allah, beliau diselamatkan oleh ikan dan dihantarkan sampai ke pinggir pantai Lamongan (Tabloid Posmo 11 Agustus 2010). Tepatnya di desa Jelag (sekarang masuk desa Banjarwati). Di tempat itu Raden Qosim disambut masyarakat dengan antusias, lebih-lebih setelah mereka tahu bahwa beliau adalah putra Sunan Ampel, seorang wali besar yang masih kerabat keraton Majapahit (MB. Rahimsyah AR., 1997). Letak Lamongan yang berbatasan langsung dengan pesisir pantai membuat logis kalau Lamongan menjadi sasaran penyebaran Islam generasi awal di Pulau Jawa.
Bukti lain menunjukkan bahwa Lamongan memang memiliki emosional spiritual keagamaan yang tinggi adalah, bahkan di zaman-zaman penjajahan belandapun, dalam mempertahanan kemerdekaan banyak para kyai yang berperan. Tidak asing lagi nama Kyai Amin, kyai asal Desa Tunggul yang namanya hingga kini telah diabadikan menjadi sebuah nama jalan di tengah jantung kota Lamongan. Bahkan hingga saat ini masih berdiri kokoh pesantren dengan spirit Kyai Amin, walaupun di masa-masa penjajahan pesantren itu sempat bubar diobrak abrik oleh Belanda, namun pada 1952, putra-putri Kyai Amin kemudian membangun kembali ponpesnya tersebut dan diberi nama Ponpes Al-Amin ( Radar Bojonegoro, 10 November 2009). Disinilah tepatnya bagaimana kita seharusnya menoleh kembali kebelakang dengan segala perjalanan sejarah panjang perjalanan hidup tokoh-tokoh sejarah dan masyarakat Lamongan yang tak pernah lepas dari yang namanya sikap religiusitas yang senantiasa mengajarkan pendidikan moral, agama, dan ilmu-ilmu kebaikan ditengah-tengah masyarakatnya bukan malah memicu pertikaian sesama.
Kesiapan Penyelenggara dan Pengamanan
Sebenarnya sudah sering terjadi hal serupa di Lamongan, apalagi di acara konser musik setelah hari raya. Seperti dilansir sebuah media online di tahun 2009, konser dangdut untuk meramaikan libur Lebaran di tempat wisata Waduk Gondang di Desa Gondang, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur diwarnai aksi tawuran antarpenonton (Suara Karya Online, 24 September 2009). Perkelahian-perkelahian semacam itu banyak terjadi hanya karena masalah-masalah sepele, psikologi penonton dan kondisi panas udara di ruang terbuka dengan jubalan penonton saat konser juga kerap menjadi pemicu, terkadang penonton juga ada yang mengkonsumsi miras saat menonton konser, apalagi dengan pemicu goyang erotis penyanyi-penyanyinya yang berpakaian minim adalah bumbu yang lengkap sebagai pemicu tawuran. Berdasar informasi yang dihimpun, semula konser dangdut itu berjalan lancar, seluruh penontot larut dalam irama musik dangdut. Namun saat seluruh artis lokal yang tampil bareng hendak turun panggung kericuhan terjadi. Diduga aksi tawuran dipicu karena aksi saling dorong antarpenonton saat berjoget (Antara News Jawa Timur,23 September 2009). Awalnya memang terkadang hanya soal senggolan, tapi tak jarang ujungnya adalah pertikaian. Apalagi sebagaian besar penonton adalah didominasi remaja dan pria. Dan karena sudah kerap terjadi itulah , seharusnya penyelenggara harus lebih preventif lagi terhadap kejadian-kejadian yang berdampak pada perkelahian atau tawuran seperti ini. Bukan malah menampilkan penari penari dan penyanyi yang berjoget erotis dan menjijikkan yang mengakibatkan penonton hilang kontrol. Karena kalau mau ditelisik lebih jauh, usaha untuk tidak menampilkan biduan-biduan yang erotis dan seronok itu adalah salah satu cara untuk mengurangi tingkat naiknya libido penonton yang kerap berakhir rusuh.
Selain hal di atas, mengenai pengamanan, karena sudah pernah terjadi di lokasi yang sama dan dalam rangka acara yang sama, seharusnya pihak keamanan juga harus lebih waspada lagi, kesiapa armadanya dengan perhitungan resiko kejadian serupa yang sudah pernah terjadi tentunya harus lebih bisa menjadikan hal ini sebagai pengalaman berharga. Kalau pihak keamanan di final Liga Indonesia 2010 di Solo baru-baru ini saja bisa meng-cut atau menghentikan sepihak jalannya pertandingan yang sedang belangsung di tengah lapangan hijau, yakni aparat dengan mudahnya mengintervensi role-peraturan yang sudah paten dari FIFA demi meredam tawuran, kenapa harus sulit kalau hanya untuk mempertimbangkan boleh atau tidaknya sebuah konser musik yang sudah pernah ricuh di tahun sebelumnya yang kalau diadakan lagi belum tentu malah memberi maslahat, kenyamanan dan keamanan pada pengunjung yang ingin menikmati liburan. Kalaupun ini hanya sikap egois pihak penyelenggara saja untuk menarik datangnya pengunjung sebesar-besarnya, rasa-rasanya kurang eloklah kalau ini terjadi apalagi dilakukan untuk mengisi liburan disaat kaum muslimin yang masih dalam suasana Idul Fitri.
Jumat, 29 Januari 2010
Jilbab gondrong nyusup di lautan merah Surabaya .....(28 Januari 2010, Menagih janji 100 hari SBY- Budiono)
Udah berangkatnya telat, gak bawa kamera lagi... cuma modal kartu pers yang masa berlakunya hampitr habis lagi. Pakaian dan barang bawaan gak wartawan bgt deh, malah kelihatan kayak orang mo kondangan... semua serba dadakan deh...
penennya sih nekat berangkat sendiri, tapi tak terduga ada Bayti yang siap jadi ojek, hehe. Padahal udah sms beberapa pentolan gerakan d surabaya... tapi ternyata gak ada balasan,,, jadi blm bisa bayangin keadaan medan kayak apa.
sesampainya di delta udah ketemu kumpulan banyak anak2 gmni yang lagi bersiap long march menuju grahadi. Niatnya tadi mo ngliput BEM SI yang katanya hari ini juga turun, ehhh ternyata ga lihat sama sekali anak2 BEM SI dsana.
Udah nasib jalan menuju Grahadi pada di potong, akhirnya harus muter lewat Kedung Doro... motor mau gak mau harus diparkir di selatan TP, karena itu satu2nya tempat parkir yang paling dekat dengan Grahadi.
Ku tanya ke Bayti: "gmana anti berani terus ga?", dan bBayti menjawab: "InsyaAlloh berani mbak". ( karena kulihat dari kejauhan kayaknya laki2 semua deh... gak terlihat perempuan sama sekali..aku agak mikir, klo sampe ada apa2 aku juga harus tanggung jawab terhadap Bayti).
Tetap kuberanikan langkahku dengan Bismillah.... semakin deka dengan titik masa, tak satupun orang yang ku kenal dsana... Bayti ku suruh nunggu d sebelah trotoar, lalu aku yang masuk melewati tali pembatas yang di pasang aparat. hiruk pikuk keadaannya, aku coba menenangkan diri sejenak... lalu dengan PD nya, hehe, ku dekati kerumunan Forum Aksi Mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma atau FAM UWK, " mas pers realisenya masih ada?"... lalu salah satu pimpinannya menemuiku dan memberikan selembar pers realise nya.
tak lama kemudian datang lagi segerombolan mahasiswa, klo yang ini dengan banyak bendera... ada GMNI, PMII, HMI, dan PMKRI... ternyata mereka kelompok Cipayung. Lalu dengan tanpa basa basi lagi ku dekati Korlapnya... dan seterusnya sampai akhirnya giliran Pimpinan temen2 PRD.
Udah dapet semua bahannnyaa, tapi Fotonya yang gak ada... muter otak lagi deh... Subhanalloh, benar2 pertologan Alloh... ketemu ma cewek gaya wartawan yang ternyata Adek angkatan di Unair, gak sempat nanya dia dari media mana...yang penting udah kuloby dia untuk share Fotonya. hehe, tapi lupa gak sempet nyuruh dia abadikan gambarku di tengah lautan merah manusia, (narsis nya tetep dunk)
Sudah cukup kangen2annya ma adek angkatan... sekarang waktunya dengerin orasi pak Dhe karwo yang disambut teriakan massa... " Karwo tanda tangan...Karwo Tanda Tangan!!!", dengan masih dalam kawalan kapolda...akhirnya Pak De Karwo mau tanda tangan Juga... (Gak jadi panas deh aksinya, lha pancen Surabaya mendung je waktu itu, hehe)
Suasana menjadi sedikit ricuh saat Angsa berkaos SBY_Boediono dan Replika NPWP dikeluarkan. Koordinator aksi beberapa kali menyerukan untuk satu komando dan tidak ada bakar2an. Yah.. ternyata cuma kerjaan wartawan biar aksi tambah seru. hehe
Akhirnya Aku dan Bayti memutuskan untuk mundur ke Trotoar....
Eh...ternyata ada yang menyapku dari samping kiri, " ngapain disini?". Tak asing wajah orang ini bagiku, ya Alloh baru ingat aku kalau dia adalah seorang Agen. Langsung saja kusodorkan kartu Persku, hehe... ternyata sepertinya dia masih tak puas, Bayti yang kebetulan memakai jaket gerakan (yang gak ikut aksi hari ini) ditanya juga olenya..." lha mbak ini?"(sambil menunjuk k arah Bayti), Lalu dijawab oleh Bayti: " nganterin mbak ini" (sambil menunjuk ke arahku). Hehe, males banget nglayanin orang kayak gitu, sekali2 aku pengen ngerjain dia...biar gak dia aja yang suka ngerjain orang, batinku dalam hati. kuabaikan dia sambil mengsms Mega Jabar, akhirnya dia pergi sendiri... (gak pamit lagi)
Akhirnya bisa ngerjain Agen. Salahnya sendiri....Ngapain juga dia ada disini, nyapa2 sok kenal lagi...emang dasar agen... :P
penennya sih nekat berangkat sendiri, tapi tak terduga ada Bayti yang siap jadi ojek, hehe. Padahal udah sms beberapa pentolan gerakan d surabaya... tapi ternyata gak ada balasan,,, jadi blm bisa bayangin keadaan medan kayak apa.
sesampainya di delta udah ketemu kumpulan banyak anak2 gmni yang lagi bersiap long march menuju grahadi. Niatnya tadi mo ngliput BEM SI yang katanya hari ini juga turun, ehhh ternyata ga lihat sama sekali anak2 BEM SI dsana.
Udah nasib jalan menuju Grahadi pada di potong, akhirnya harus muter lewat Kedung Doro... motor mau gak mau harus diparkir di selatan TP, karena itu satu2nya tempat parkir yang paling dekat dengan Grahadi.
Ku tanya ke Bayti: "gmana anti berani terus ga?", dan bBayti menjawab: "InsyaAlloh berani mbak". ( karena kulihat dari kejauhan kayaknya laki2 semua deh... gak terlihat perempuan sama sekali..aku agak mikir, klo sampe ada apa2 aku juga harus tanggung jawab terhadap Bayti).
Tetap kuberanikan langkahku dengan Bismillah.... semakin deka dengan titik masa, tak satupun orang yang ku kenal dsana... Bayti ku suruh nunggu d sebelah trotoar, lalu aku yang masuk melewati tali pembatas yang di pasang aparat. hiruk pikuk keadaannya, aku coba menenangkan diri sejenak... lalu dengan PD nya, hehe, ku dekati kerumunan Forum Aksi Mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma atau FAM UWK, " mas pers realisenya masih ada?"... lalu salah satu pimpinannya menemuiku dan memberikan selembar pers realise nya.
tak lama kemudian datang lagi segerombolan mahasiswa, klo yang ini dengan banyak bendera... ada GMNI, PMII, HMI, dan PMKRI... ternyata mereka kelompok Cipayung. Lalu dengan tanpa basa basi lagi ku dekati Korlapnya... dan seterusnya sampai akhirnya giliran Pimpinan temen2 PRD.
Udah dapet semua bahannnyaa, tapi Fotonya yang gak ada... muter otak lagi deh... Subhanalloh, benar2 pertologan Alloh... ketemu ma cewek gaya wartawan yang ternyata Adek angkatan di Unair, gak sempat nanya dia dari media mana...yang penting udah kuloby dia untuk share Fotonya. hehe, tapi lupa gak sempet nyuruh dia abadikan gambarku di tengah lautan merah manusia, (narsis nya tetep dunk)
Sudah cukup kangen2annya ma adek angkatan... sekarang waktunya dengerin orasi pak Dhe karwo yang disambut teriakan massa... " Karwo tanda tangan...Karwo Tanda Tangan!!!", dengan masih dalam kawalan kapolda...akhirnya Pak De Karwo mau tanda tangan Juga... (Gak jadi panas deh aksinya, lha pancen Surabaya mendung je waktu itu, hehe)
Suasana menjadi sedikit ricuh saat Angsa berkaos SBY_Boediono dan Replika NPWP dikeluarkan. Koordinator aksi beberapa kali menyerukan untuk satu komando dan tidak ada bakar2an. Yah.. ternyata cuma kerjaan wartawan biar aksi tambah seru. hehe
Akhirnya Aku dan Bayti memutuskan untuk mundur ke Trotoar....
Eh...ternyata ada yang menyapku dari samping kiri, " ngapain disini?". Tak asing wajah orang ini bagiku, ya Alloh baru ingat aku kalau dia adalah seorang Agen. Langsung saja kusodorkan kartu Persku, hehe... ternyata sepertinya dia masih tak puas, Bayti yang kebetulan memakai jaket gerakan (yang gak ikut aksi hari ini) ditanya juga olenya..." lha mbak ini?"(sambil menunjuk k arah Bayti), Lalu dijawab oleh Bayti: " nganterin mbak ini" (sambil menunjuk ke arahku). Hehe, males banget nglayanin orang kayak gitu, sekali2 aku pengen ngerjain dia...biar gak dia aja yang suka ngerjain orang, batinku dalam hati. kuabaikan dia sambil mengsms Mega Jabar, akhirnya dia pergi sendiri... (gak pamit lagi)
Akhirnya bisa ngerjain Agen. Salahnya sendiri....Ngapain juga dia ada disini, nyapa2 sok kenal lagi...emang dasar agen... :P
Jumat, 22 Januari 2010
Bu Suroso oh bu Suroso...
Malam tadi perjalalanan dari Lamongan ke Surabaya. sengaja mampir ke Stasiun Lamongan untuk beli karcis komuter.Lalu seperti biasa tetap sendirian duduk menunggu di samping komuter dengan sabar, karena komuternya baru berangkat sekitar pukul 18.30 dari Lamongan ke Surabaya.
Beberapa saat sebelum komuter berangkat, aku lalu naik dan mencari tempat duduk. tak disangka ternyata disebelahku duduk seorang ibu paruh baya yang tadi sempat menyapaku dengan senyumnya, saat kami sama2 menuju mushola untuk sholat Maghrib beberapa waktu yang lalu.
Kami lalu berbincang2, bercerita2 panjang lebar. . .ternyata beliau tiap pekan selalu menyempatkan untuk "sambang" k rumah anaknya yang di Lamongan. " Anak saya seusia laki2 satu2nya nak, seusiamu,dia polisi kebetulan dinas di Polres Lamongan. jadi tiap pekan saya selalu k Lamongan untuk mengunjungi putra saya nak", cerita ibu itu sambil senyum. Panjang lebar ibu itu bercerita padaku sampai akhirnya beliau bercerita tentang bagaimana perjuangannya membesarkan keempat anaknya dengan tanpa suami. sebab ditahun 1990an, ketika anak terakhirnya lahir, suaminya meninggal dunia karena sakit lever. jadi beliau mau tidak mau harus bisa bertahan hidup dengan keempat anaknya itu. hari2 dilalui beliau dengan berjualan bakso dan soto di RSUD dr. Soetomo. awalnya ku kira beliau pegawai RSUD, tapi ternyata tidak, kata beliau. . ."walaupun hanya mengandalkan satu petak kecil dibawah tangga lantai 4 RSUD dr. Soetomo itu saja, tapi ternyata saya bisa mbertahan hidup dan bisa menyekolahkan anak saya sihingga mereka semua kini bisa mandiri nak, apalagi saat pelantikan anak saya yang polisi ini nak, dalam hati saya berkata; alangkah bahagianya jika bapakknya bisa menyaksikan perjuangan ini, hingga sampai ke pelantikan ini", tetap dengan senyum dan mata yang sedikit berkaca2 ibu itu melanjutkan ceritanya.
Dalam hati aku hanya bisa melampiaskan maluku dengan kagum padanya, dan berkali2 kuucapkan Subhanalloh, ibu hebat...benar2 hebat... aku telah bertemu dengan perempuan hebat yang kesekian kalinya. . . perjuangan seorang ibu, yang bisa membesarkan keempat putranya dengan gagah berani, tiap pagi beliau lalui dengan bersepeda motor membawa barang dagangannya ke kantin Rumah Sakit, tanpa kenal lelah, meskipun banyak tetangga yang mencibir dan meremehkannya, tapi itulah kekuatan Do'a dan Usaha. . .
Sesampainya di Stasiun Pasar Turi, kami lalu meneruskan perjalanan bersama dengan Lyn C jurusan karangmenjangan. . .ibu itu turun duluan di pertigaan tambaksari, dan aku masih harus terus mengikuti jalan roda angkot sampe menuju unair kampus A.
Sesalku ibu itu trnyata yang membayari angkotku, sedangkan keadaanku karena sudah cukup malam dan posisi yang msh berada di dalam angkot bagian belakang tak mungkin mengejar dan menolak maksud ibu itu, aku hanya bisa berbicara semampuku " bu, ndak usah bu... " dan pak sopir angkotnya sudah keburu menjalankan angkotnya.
bener2 malu aku dibuatnya...( apa aku kelihatan melas bgt ya, sampe beliau yang bayar angkotku, he he trimakasih Bu Suroso atas semua nasihat dan pelajaran hidupnya :D)
Lamongan-Surabaya, 22 Januari 2010 :D
Beberapa saat sebelum komuter berangkat, aku lalu naik dan mencari tempat duduk. tak disangka ternyata disebelahku duduk seorang ibu paruh baya yang tadi sempat menyapaku dengan senyumnya, saat kami sama2 menuju mushola untuk sholat Maghrib beberapa waktu yang lalu.
Kami lalu berbincang2, bercerita2 panjang lebar. . .ternyata beliau tiap pekan selalu menyempatkan untuk "sambang" k rumah anaknya yang di Lamongan. " Anak saya seusia laki2 satu2nya nak, seusiamu,dia polisi kebetulan dinas di Polres Lamongan. jadi tiap pekan saya selalu k Lamongan untuk mengunjungi putra saya nak", cerita ibu itu sambil senyum. Panjang lebar ibu itu bercerita padaku sampai akhirnya beliau bercerita tentang bagaimana perjuangannya membesarkan keempat anaknya dengan tanpa suami. sebab ditahun 1990an, ketika anak terakhirnya lahir, suaminya meninggal dunia karena sakit lever. jadi beliau mau tidak mau harus bisa bertahan hidup dengan keempat anaknya itu. hari2 dilalui beliau dengan berjualan bakso dan soto di RSUD dr. Soetomo. awalnya ku kira beliau pegawai RSUD, tapi ternyata tidak, kata beliau. . ."walaupun hanya mengandalkan satu petak kecil dibawah tangga lantai 4 RSUD dr. Soetomo itu saja, tapi ternyata saya bisa mbertahan hidup dan bisa menyekolahkan anak saya sihingga mereka semua kini bisa mandiri nak, apalagi saat pelantikan anak saya yang polisi ini nak, dalam hati saya berkata; alangkah bahagianya jika bapakknya bisa menyaksikan perjuangan ini, hingga sampai ke pelantikan ini", tetap dengan senyum dan mata yang sedikit berkaca2 ibu itu melanjutkan ceritanya.
Dalam hati aku hanya bisa melampiaskan maluku dengan kagum padanya, dan berkali2 kuucapkan Subhanalloh, ibu hebat...benar2 hebat... aku telah bertemu dengan perempuan hebat yang kesekian kalinya. . . perjuangan seorang ibu, yang bisa membesarkan keempat putranya dengan gagah berani, tiap pagi beliau lalui dengan bersepeda motor membawa barang dagangannya ke kantin Rumah Sakit, tanpa kenal lelah, meskipun banyak tetangga yang mencibir dan meremehkannya, tapi itulah kekuatan Do'a dan Usaha. . .
Sesampainya di Stasiun Pasar Turi, kami lalu meneruskan perjalanan bersama dengan Lyn C jurusan karangmenjangan. . .ibu itu turun duluan di pertigaan tambaksari, dan aku masih harus terus mengikuti jalan roda angkot sampe menuju unair kampus A.
Sesalku ibu itu trnyata yang membayari angkotku, sedangkan keadaanku karena sudah cukup malam dan posisi yang msh berada di dalam angkot bagian belakang tak mungkin mengejar dan menolak maksud ibu itu, aku hanya bisa berbicara semampuku " bu, ndak usah bu... " dan pak sopir angkotnya sudah keburu menjalankan angkotnya.
bener2 malu aku dibuatnya...( apa aku kelihatan melas bgt ya, sampe beliau yang bayar angkotku, he he trimakasih Bu Suroso atas semua nasihat dan pelajaran hidupnya :D)
Lamongan-Surabaya, 22 Januari 2010 :D
Langganan:
Postingan (Atom)